Istri dan Anakku. Subhanallah...

Dunia itu perhiasan. Dan, perhiasan yang paling indah adalah istri yang salehah. Menikahlah, jika Anda menghendaki surga dunia.

Training Jurnalistik

Menyampaikan pelatihan menulis bertajuk "Seni Menulis Artikel" di hadapan santriwati PPI 67 Benda Tasikmalaya.

Berseminar

Sedekah itu Luas. Jika Anda punya ilmu, sedekahkan ilmu Anda, niscaya bertambah berkah.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 20 Maret 2011

Yang Muda Yang Berkualitas


“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa [4]: 9).


Roda kehidupan akan terus berputar, berganti masa dan berganti generasi. Anak-anak akan segera menjadi remaja kemudian dewasa, selanjutnya mengalami masa tua dan akhirnya akan dipanggil ke hadirat Allah swt.. Oleh karena itu, perlu disiapkan generasi-genarasi yang berkualitas untuk melanjutkan perjuangan menegakkan agama tercinta ini. Ada 10 karakter generasi yang berkualitas yang akan melanjutkan perjuangan, di antaranya:

1.  Memiliki kepribadian holistic (utuh) sebagai seorang muslim
Karakter pertama seorang muslim muda yang berkualitas tinggi (selanjutnya disebut MMKT) adalah berkepribadian yang utuh sebagai seorang yang berserah diri kepada Allah (muslim). Tidak setengah-setengah, tidak memilah hal yang yang sesuai dengan pikirannya, berimansecara kaffah, dan beramal sepenuh hati. Sikap dan tingkah lakunya selaras dengan koridor Islam. Dari mulutnya senantiasa keluar ucapan-ucapan yang baik nan penuh makna. Di dalam hatinya kuncup keyakinan akan keesaan dan kemahakuasa-an Allah. Muslim yang berkualitas tinggi selalu merujuk ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah dalam setiap gerak-langkahnya.

2.  Berorientasi hanya kepada Allah (tauhid)
Allah adalah tujuan utama bagi seorang MMKT. Setiap amal yang dilakukannya tidak didasari oleh kepentingan-kepentingan di luar kepentingan kepada Allah (riya). Ia senantiasa khusyu dalam shalatnya, ikhlas dalam sedekahnya, jernih dalam berpikir, lebih mementingkan urusan akhirat ketimbang dunia, dan selalu bersikap ihsan (merasa diawasi Allah yang  berakibat berhati-hati dalam setiap aktivitasnya).

3.  Beruswah kepada Rasulullah saw.
Jika MMKT ditanya, siapakah orang yang paling dikagumi? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang paling dicintai? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang menjadi idola dalam hidup? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang akan ditaati dan dituruti? Jawabannya adalah Rasulullah. MMKT menjadikan Rasulullah sebagai segalanya. Setiap amal yang ia lakukan selalu diselaraskan dengan amal yang Rasulullah ajarkan. Semangat dalam beraktivitas, mujahadah dalam beribadah, santun dalam berucap, luhur dalam bersikap, tidak berburuk sangka, memaafkan kesalah orang, menahan amarah, dll..

4.  Taat beribadah sesuai sunnah
MMKT adalah orang yang taat beribadah kepada Allah. Rajin shalat dengan ikhtiar khusyu, berzakat dan bersedekah, melaksanakan shaum di bulan Ramadlan dan shaum-shaum sunatnya, membaca al-Quran setiap hari, thalabul ‘ilmi tiada henti, mencari nafaqah dengan penuh motivasi, dll.. Dalam menjalankan ibadah MMKT selalu merujuk kepada Star Kit ibadah, yakni al-Quran dan as-Sunnah. Al-Quran dan as-Sunnah adalah buku panduan dalam melaksanakan ibadah. Jika tidak berdasarkan keduanya, maka ibadah tidak akan bernilai di sisi Allah swt..
5.  Menjaga diri dari maksiat
Maksiat berarti tidak mengindahkan perintah/larangan dari Allah dan Rasulullah. Akibatnya, murka Allah akan dirasakannya di dunia maupun di akhirat. MMKT dalam segala aktivitasnya akan selalu memelihara diri dari maksiat. MMKT tidak akan membiarkan dirinya terbiasa dengan maksiat-maksiat kecil apalagi maksiat besar. Maksiat kecil akan menjadi “gunung maksiat” jika dilakukan secara istimrar (berkelanjutan) dan maksiat besar yang istimrar akan menjadi “lautan maksiat”. Terbiasa dengan maksiat merupakan boking tempat di neraka nanti.

6.  Memiliki wawasan yang intensif (mendalam) dan ekstensif (luas)
Islam menuntut umatnya agar menjadi orang yang pintar nan cerdas. Rasulullah sendiri pun merupakan sosok pribadi yang paling cerdas di muka bumi ini. Kecerdasan yang dimiliki oleh MMKT mencakup tiga aspek, yaitu inteligensi, emosional, dan spiritual. Cerdas inteligensi (IQ) akan melahirkan sosok yang berwibawa karena ilmu yang dimilikinya. Cerdas emosional (EQ) akan menjadikan MMKT sebagai pribadi yang penu simpati, empati, afeksi, mandiri, dan penderma. Cerdas spiritual (SQ) akan menampakkan pribadi yang patuh dalam menjalankan aturan agama.

7.  Visioner
Waktu yang berlaku di dunia ini adalah masa lalu, hari ini, dan masa depan. MMKT akan menata waktunya dengan baik. Masa lalu akan dijadikan ibrah (pelajaran) untuk menjalani hari ini. Hari ini akan dijadikan pegangan untuk merencanakan masa depan. Sikap yang ditampakkan hari ini akan menentukan berhasil atau tidaknya seseorang di masa depan. Ketika si A malas-malasan untuk beraktivitas, kemungkiinan keberhasilan yang diinginkannya akan menjauh. Maka, MMKT akan menjadi seorang yang selalu menatap masa depan dengan cerah karena hari ini ia berjuang dengan “cerah”.

8.  Mujahid
Dalam setiap aktivitas yang dijalaninya, MMKT selalu memiliki sikap serius dan sungguh-sungguh serta optimal. Keseriusan menekuni sesuatu akan mengantarkan kepada harapan yang diukir. Serius dalam belajar, sungguh-sungguh serta optimal, akan menjadikan diri sebagai “pemenang” dalam kompetisi meraih prestasi. Ulet dan tekun dalam bekerja, akan membawa kita menjadi orang yang berhasil meretas kesuksesan. Pun dalam beribadah, MMKT senantiasa optimal menjalankannya, tidak setengah hati. Karena al-Quran menuntut kita agar sungguh-sungguh dalam menjalankan aturan agama. Jika iman, ya imanlah. Jika kafir, ya kafirlah.

9.  Menjaga stabilitas iman
Al-Imanu yazidu wa yanqushu, iman itu kadang bertambah dan kadang menurun. Demikianlah sabda Rasulullah saw.. MMKT akan terus berusaha agar keimanan yang ada di dalam hatinya tidak surut dan selalu pasang, sehingga di mana pun dan kapan pun ia akan selalu siap menyerahkan dirinya kepada Allah. Salah satu trik agar iman tetap terjaga adalah membiasakan diri dengan kebaikan sekecil apapun. Karena, ketika kita lengah dengan kebaikan, di saat itulah iman merosot. Selain itu, kita memohon kepada Allah agar iman kita tidak luntur dan tetap tumbuh-berkembang di kebun hati.

10. Mendakwahkan Islam dengan efektif
Ada tiga tahapan dalam hidup beragama, yaitu paham, amal dan dakwah. Untuk paham, MMKT akan terus berjuang mencari ilmu yang Allah miliki. Setelah ilmu didapat, MMKT akan merefleksikannya di dalam kehihdupan sehari-hari. Setelah memahami ajaran Islam, lalu mengaplikasikannya dengan sepenuh hati, MMKT akan berbagi ilmu dengan sesama. Hal ini adalah demi terciptanya masyarakat yang shaleh atau kita sebut dengan keshalehan kolektif. Akan merasa tenanglah jiwa ketika diri berusaha untuk shaleh, lingkungan pun berjuang untuk menjadi lingkungan yang berbakti kepada agama. q

Empat Permintaan


اَللهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ هَؤُلآءِ الأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesunggunya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak mampu khusyu, dari doa yang tidak didengar, dari nafsu yang tidak pernah puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari keempat hal tersebut.” (H.R. Tirmidzi).

Dalam doa tersebut, kita meminta agar dijauhkan dari empat hal kepada Allah swt.. Di antaranya adalah:

1.      Dijauhkan dari hati yang tidak mampu khusyu
Hati dalam bahasa Arab diistilahkan dengan qalb. Qalb itu sendiri artinya adalah bolak-balik alias tidak statis alias dinamis. Kadang merasa bahagia, kadang sedih. Suatu saat damai, saat yang lain amarah memuncah. Di satu aktivitas merasa optimis, di akticitas lain malah pesimis. Kadang khusyu beribadah kadang pula lali mengingat Allah. Itulah karakter hati. Nah, dalam doa ini kita meminta agar Allah mejaga hati kita agar tetap khusyu dalam segala hal terutama ibadah. Jika hati selalu khusyu, insya Allah diri kita akan merasa tenang dalam segala hal dan ketenangan adalah jalan untuk mendapatkan kebahgiaan.

2.      Dijauhkan dari doa yang tidak didengar (ghair mustajab)
Permintaan atau doa kita kepada Allah inginnya selalu diijabah. Tetapi ternyata ada hal-hal yang membuat doa kita terhalang tidak dikenankan. Di antaranya adalah konsumsi hidup yang haram-haram, maksiat yang tidak ditobati, berdoa dengan berlebihan, tidak yakin, dll.. Sengsara lah jika setiap doa yang dipanjatkan tidak diijabah oleh Allah. Oleh karena itu, untuk menopang agar doa kita diijabah, kita mesti mengetahui dan memahami cara-cara berdoa yang benar. Insya Allah jika ada usia akan diabahas kemudian tentang hal ini.

3.      Dilindungi dari nafsu yang tidak pernah puas
Karakter nafsu adalah tidak pernah puas dengan suatu capaian. Selalu saja ingin lebih, ingin lebih dan ingin lebih lagi. Untuk urusan dunian ini dalah sebuah kesalahan. Tetapi untuk urusan akhirat, ini sangat dituntut. Mau lagi ah bersedekah, mau lagi ah shalat tahajud, mau lagi membantu faqir-miskin, dan mau-mau kebaiakan lainnya. Itu merupakan gambaran semangatnya umat Rasulullah dalam ketaatn kepada agama karena agama Islam selamanya mengajarkan kebaikan bukan kejahatan bukan pula terorisme. Nah, point ini adalah permintaan untuk dijauhkan dari nafsu yang tidak pernah puas dalam urusan dunia yang fatamorgana.

4.      Dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat
Ilmu yang tidak bermanfaat akan menjadi bumerang bagi si pemiliknya. Bahkan ketika seseorang memiliki ilmu tapi ilmunya tidak bermanfaat, ia bisa saja dikatagorikan sebagai kaumk munafiq. Ciri bahwa ilmu dikatakan manfaat di antaranya adalah:
a.       Ilmu yang telah dimiliki, diamalkan oleh pemiliknya kecuali ilmu yang sifatnya sebagai wawasan saja. Misalnya sudah tau bahwa shalat itu wajib, tapi ternyata tidak ada gerakan hati sekalipun untuk rindu shalat apalagi melaksanakan apalagi mendirikan shalat.
b.      Ilmu itu diduplikasikan kepada yang belum memahami. Ini adalah ciri kedua ilmu yang bermanfaat.

Baiklah kawan, amalakan terus doa ini ya… Semoga Allah senantiasa memberi kita kesempatan untuk terus meraih kebaikan. Caiyooo…!!!

Management Perasaan

Feeling Power
Manusia memiliki dua dimensi yang saling berkait. Jika dua demensi itu terpisah maka berakhirlah perjalanan hidup manusia. Jasmani dan ruhani. Itulah dua dimensi yang ada pada diri manusia. Ketika jasad ada tapi ruhnya tidak ada, itu namanya bangkai. Faktor fisik dan faktor psikis sangat memengaruhi keberlangsungan hidup seseorang. Jika fisiknya sakit, aktivitas terganggu. Pun jika psikisnya sakit, kegiatan terhambat pula. Kesehatan keduanya sangat berpengaruh bagi aktivitas yang dijalani. Nah, Sahabat, yang akan dikaji pada ruang ini adalah perasaan sebagai salah satu bagian dari psikis.
Perasaan itu tempatnya di dalam hati. Perasaan yang muncul ke permukaan tergatung kondisi hati seseorang. Jika hatinya steril dari berbagai macam kotoran, maka perasaan mudah terkendali dan ketika perasaan terkendali, tombol sukses tinggal ditekan saja. Begitu kata Erbe Sentanu. Alasannya, perasaan merupakan benda quantum selain pikiran yang memiliki daya tarik terhadap realitas yang akan terjadi. Layaknya magnet yang menarik benda-benda sejenis besi, perasaan pun akan menarik realitas sesuai dengan apa yang saat ini dirasakan.
Jika merasa mampu, merasa bisa, merasa bahagia, merasa kaya, merasa cukup, dan merasa-merasa lain yang muatannya positif, maka realitas yang akan terjadi adalah sesuai dengan apa yang dirasakan. Begitu kata Erbe Sentanu. Kenapa? Karena, ketika kita merasakan tentang sesuatu seketika itu kita menebarkan gelombang elektromagnetik ke semesta alam raya. Dan, alam akan merespon dan menangkap umpan tersebut dengan menyodorkan realitas yang sesifat dengan apa yang dirasa. Ada hukum resiprokal (umpan balik) dalam interaksi antara perasaan dan alam. Melepas umpan dengan perasaan baik, maka alam akan menangkap dan melepas kebaikan ke dalam diri kita.
Sebenarnya hal ini sudah jauh lebih dulu dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits qudsinya. Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku. Jika sangkaannya baik, maka baiklah realitas yang terjadi. Jika sangkaannya buruk, maka buruklah realitas yang terjadi (H.R. Thabraniy).

Manage Our Feeling
Perasaan terhubung dengan pikiran. Pikiran bisa mengendalikan dan merubah perasaan yang muncul. Keduanya saling melengkapi dalam perjalanan hidup seseorang. Contoh kongkrit, ketika kita sedang naik motor, tiba-tiba ada mobil menyerempet kita. Apa yang dirasa saat itu? Marah, jengkel, geram, menghasut, dan mengutuk. Itu adalah sederet perasaan yang sontak muncul. Tetapi perasaan tersebut bisa dikendalikan hanya dengan pikiran.
Sekarang coba jika pikiran kita dirubah, mungkin orang yang di dalam mobil tadi sedang menuju rumah sakit karena istrinya akan melahirkan, mungkin orang yang di dalam mobil sedang menuju rumah orang tuanya yang sedang sakit parah, atau mungkin orang itu sedang dirundung duka karena anaknya diberitakan wafat.
Apa yang akan dirasakan? Kita akan bahagia dan bersyukur bukan? Karena berpikir “serba untung”. Untung masih selamat, untung tidak terjadi kecelakaan, dan kita tidak mengalami apa yang orang itu alami. Kita pun tenang dan tidak menyimpan perasaan jengkel. Itulah yang disebut Arvan Pradiasyah dalam The 7 Laws of Happiness sebagai kekuatan memilih. Memilih pikiran dalam situasi dan kondisi bagaimanapun.
Nah, sekarang kita sudah mengambil sebuah pelajaran bahwa perasaan bisa dikendalikan dengan memilih pikiran. Berpikir positif atau negatif? Tentu semua itu ada konsekuensi masing-masing. Pikiran yang positif akan merambatkan muatan positif pada perasaan. Begitu juga sebaliknya.
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa berpikir positif dalam segala hal sehingga perasaan pun akan positif? Tentunya kita mesti memahami bagaimana karakter pikiran dalam kehidupan dan apa efek yang timbul dari pikiran? Kesadaran inilah yang harus kuat menancap di dalam diri kita. Jika menyadari apa yang sedang dipikirkan saat ini buruk, maka pilihlah pikiran lain yang lebih baik agar ketenangan hadir memenuhi hati. Dalam bahasa hadits memilih pikiran yang baik ini dinamai dengan husnuzhan (prasangka baik).
Kualitas pikiran yang lahir akan sangat tergantung dengan konsep dan pemahaman yang dimiliki. Inventarisasi ilmu menjadi salah satu faktor penentu mutu pikiran. Oleh karena itu, perbanyaklah ilmu, ya… tentang konsep kehidupan, hakikat eksistensi manusia, relationship, tentang otak dan karakternya, hukum daya tarik pikiran (the law of mind attraction), tentang hati dan management-nya, dan lain-lain. Simpulannya, kualitas pikiran dipengaruhi oleh kualitas ilmu yang dimiliki.

Sabtu, 19 Maret 2011

Kuesioner: Pergaulan dan Remaja

Responden: Yusuf Awaludin

1. Apa yang kamu ketahui tentang remaja sekarang ini?
Fenomena yang terjadi remaja masa sekarang lebih banyak terbuai dengan kesenangan2 semu. Having fun, nongkrong2, cinta monyet, bahkan ada yang sampai berani menepikan nafsu cintanya dengan zina (pegangan tangan, ciuman, sampai freesex), na’udzubillah. Sedangkan yang konsisten dengan Islam jarang kita saksikan. Paling paling komunitas remaja muslim yang bener2 muslim bisa dihitung dengan jari tangan.

2. Apa pendapat kamu tentang jaman sekarang dipandang dari sudut pergaulan remaja?
Remaja banyak yang terbawa arus globalisasi. Mereka tidak menyadari bahwa diri mereka adalah korban perang mental bangsa Yahudi. Lihat saja akhlak mereka yang secara jelas keluar dari koridor Islam. Perempuan –yang dulu dihinakan, lalu ketika diangkat derajatnya oleh Islam–, sekarang mereka malah menurunkan harga diri mereka sendiri menjadi hina kembali. Pakaian yang mengumbar aurat sudah bukan hal yang tak biasa, gaya hidup mewah, gaya bicara, dan gaya-gaya negatif lainnya menjadi indikator bahwa remaja muslim tengah di-”bombardier” agar karakter kemusliman mereka mati.

3. Apa sih masa remaja itu?
Masa remaja atau dalam istilah psikologinya adolesen, adalah masa transisi (peralihan) dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam masa remaja akan terjadi strom and drung, gejolak atau kemelut yang disertai oleh perubahan-perubahan fisik atau tubuh. Nah, di masa ini lah seseorang akan membentuk karakternya masing-masing. Oleh karena itu, agar karakter di masa dewasanya nanti baik, maka pada masa remaja ini mereka harus berlatih diri dan dilatih untuk mengarahkan diri mereka –pada saat terjadi gejolak dan kemelut– ke arah yang benar (baca: Islam).

4. Apakah pergaulan remaja sekarang menyimpang dengan aturan-aturan agama Islam?
Saya katakan tadi bahwa, di antara mereka banyak yang menyimpang tetapi masih ada yang konsisten menjunjung nilai-nilai Islam dengan melihatkan akhlak-akhlak Islami seperti pakain yang Islami, cara bergaul, aksi soaial, kajian-kajian keislaman, content berbicara yang baik, dll. Tetapi secara umum remaja kita sudah kehilangan nilai agama yang dianutnya.

5. Kalau begitu apa sebabnya?
Sebabnya banyak, di antaranya pada masa kanak-kanak orang tua mereka kurang aktif mengarahkan dan membimbing, bisa juga akibat globalisasi yang mengajarkan kebebasan berekspresi bagi siapapun, atau mereka sendiri yang kurang sadar bahwa diri mereka adalah asset terbesar keluarga, masyarakat, bangsa dan agama.

6. Apakah kamu termasuk orang yang seperti itu?
Menurut kamu, ana bagaimana? Hehe… nyimpang atau nggak? Nggak atuh, insya Allah ana akan selalu consist dengan nilai-nilai Islam dan siap berjuang mendakwahkan Islam sampai tetes darah penghabisan. Allahu Akbar…!

7. Apa solusinya kalau pergaulan remaja sekarang menyimpang dari aturan agama Islam?
Solusinya menurut ana adalah semua pihak harus selaras. Di keluarga, orang tua mesti mendidik anak-anaknya (terutama yang remaja) secara optimal; di sekolah, guru mesti menjadi teladan yang baik bagi mereka selain memberi wejangan, pemerintah juga mesti memerhatikan pendidikan baik keindonesiaan, umum maupun pendidikan agama, terutama Islam; dan yang paling utama adalah, They must change them self right now! Mereka mesti merubah diri mereka sekarang juga! Rubah diri mereka menjadi lebih baik. Banyak-banyak lah mengikuti kajian, ta’lim, training-rraining motivasi, dll..

8. Apa pergaulan itu?
Pergaulan adalah salah satu bentuk sosialisasi. Sosialisasi berati hubungan timbal balik antara seseorang dengan yang lain. Di sini akan terlihat proses tarik-menarik karakter pribadi. Jika kita bergaul dengan tukang minyak wangi, maka terbawa harumlah kita meskipun tidak memakai parfumnya. Jika kita bergaul dengan pandai besi, kita akan “tercemari” polusi besi sehingga badan kita akan bau tukang pandai besi.

9. Apa akhlak itu?
Akhlak itu berasal dari kata khalaqa artinya menciptakan. Jadi secara bahasa akhlak adalah kartakter yang diciptakan. Penciptaan karakter ini bisa oleh orang tua, guru, atau masyarakat, tetapi penciptaan karakter yang akan kuat adalah oleh diri sendiri. Caranya menciptakan agar karakter menjadi baik adalah dengan membiasakan kebiasaan-beiasaan kecil yang baik. Ingat, at the first you make habits, at the last habits make you, pada awalnya kamu membuat kebiasaan-kebiasaan dan pada akhirnya, kebiasaan-kebiasaan lah yang akan menciptakan (karakter)mu.

10. Apa saja ciri remaja yang terbawa oleh pergaulan dengan remaja yang terbawa oleh akhlak?
Gini dulu, pergaulan adalah perkumpulan antara akhlak-akhlak. Paham nggak ni? Jadi, kita bisa mengatakan bahwa suatu pergaulan dianggap baik jika akhlak-akhlak yang membangun pergaulan adalah akhlak-akhlak yang baik, katakana saja akhlak Islam. Simple-nya, akhlak seorang remaja itu akan terbawa baik atau buruk di dalam sebuah pergaulan, tergantung pergaulan yang mana yang ia pilih.

11. Apa saja perbedaan antara keduanya?
Saya kira jawaban tadi sudah mewakili pertanyaan yang barusan. Kamu paham, kan?

12. Jadi menurut kamu, apa kesimpulan tentang pergaulan dan remaja saat ini?
Oke, karena pertanyaannya diikat dengan waktu “saat ini”, maka saya jawab bahwa pergaulan remaja di abad ini secara umum saya sebut pergaulan yang negatif. Ingat, secara umum, ya! Kenapa? Karena bukti kongkrit akhlak mereka adalah akhlak yang negatif (jauh dari tuntunan Islam). Jadi, para aktivis Islam mesti memprakarsai event-event pembentukan akhlak. Misalnya, Kajian Islam Intensif, ta’lim rutin, training motivasi, training akhlak, “dakwah dunia kertas” (majalah, bulletin, tabloid), dakwah dunia maya, dan banyak lagi. Terakhir, seberapapun usaha membentuk karakter yang baik, jika diri masing-masing tidak mau berubah, maka hasilnya nihil. Jadi, perubahan itu harus dimulai dari diri masing-maisng, ibda` binafsik! Jika diri masing-masing sudah bisa berubah, otomatis akan terjadi perubahan besar di komunitas, masyarakat, bangsa dan negara. Cayoo…!

Jumat, 18 Maret 2011

Belajar Menyenangkan Nan Efektif (2)

B. Action Set
Belajar yang baik dimulai dengan niat yang baik. Niat yang baik ini akan menentukan nilai di hadapan Allah. Setelah niat baik mengawali belajar, tentunya content belajarpun mesti baik juga. Dalam arti belajar itu terhadap sesuatu yang bermanfaat. Jika disandingkan dengan hal lain, ya… seperti bermain judi tapi hasilnya diniatkan untuk berinfaq fisabilillah… Seperti Robin Hood yang merampok untuk menyantuni kaum dhu’afa.
Setelah itu, arungi medan belajar dengan semangat membara. Kenal lelah tapi tidak berhenti saat lelah hinggap. Di sesi proses pembelajaran ini, fluktuasi kondisi akan sering terjadi. Kita hanya dituntut mampu menyiasati kondisi negatif semacam malas, jenuh, kurang referensi, relasi belajar yang tidak baik, dll.. Kepandaian menyiasati hal-hal negatif yang muncul akan menambah energi mujahadah fi thalabatil ‘ilmi.
Sobat, untuk mengaktualkan semangat belajar, secara global ada empat cara agar belajar selalu onfire:
1. Belajar Keras (Study Hard)
2. Belajar Cerdas (Study Smart)
3. Belajar Tuntas (Study Total)
4. Belajar Ikhlas (Study Sincere)
Keempat cara tersebut insya Allah akan menjadikan proses belajar semakin menyenangkan. Alhasil, ketika antum belajar menyenangkan, betah, enjoy, dan menikmati perjalanan “bus” belajar, maka ilmu akan tersenyum menghampiri diri antum sekalian seraya berkata “Aku ini memang senang dengan Sang Pembeajar sepertimu”.
Untuk penjelasan lebih lanjut, insya Allah postingnya nyusul ya… he…
Semangad belajar kawan…!!!