Rabu, 05 Juni 2013

Sa'id bin Amir: Sang Gubernur yang Fakir



Adalah sebuah kewajaran ketika seseorang mengemban amanah kepemimpinan, dalam hal ini kepemimpinan dalam urusan Negara, kemudian ia memiliki harta yang cukup banyak. Karena, memang ada timbale balik dari rakyat untuk para pengemban amanah (jabatan) tersebut berupa uang gaji pokok dan dana-dana lainnya sesuai prosedur atau regulasi.

Namun, percayakah Anda ketika ada seorang pengemban amanah rakyat, katanlah seorang gubernur, yang fakir? Saya kira, untuk menjawab, “Ya, percaya!”, Anda harus berpikir dan mengolah informasi terlebih dahulu. Sulit untuk percaya jika ada seorang gubernur yang fakir. Iya kan? Awalnya saya juga begitu. Setelah menyimak dan membaca, ternyata benar ada seorang gubernur yang benar-benar fakir.

Siapakah gubernur yang fakir tersebut? Jika Anda penasaran, silahkan lanjutkan membaca!

Sa’id bin Amir al-Jumahi. Itulah nama gubernur yang sedang kita bahas. Gubernur yang fakir, gubernur yang menyia-nyiakan kenikmatan dan kesenangan dunia. Padahal, kesempatan itu ada di depan mata dan itu halal baginya.

Alkisah, Sa’id bin Amir masuk Islam setelah berhari-hari ia dihantui baying-bayang “pesta” pembunuhan sahabat nabi yang bernama Khubaib. Disaksikan kafir-kafir Quraisy dari anak-anak sampai para pembesar Quraisy, termasuk Sa’id bin Amir yang mendapat penghormatan sebagai VIP alias Very Important Person (orang yang sangat penting), Khubaib diarak ke hadapan kaum kafir Quraisy yang meneriakinya, memakinya, dan menghinanya. Sebelum dieksekusi, Khubaib meminta izin untuk mendirikan shalat dua rakaat. Sa’id menyaksikan Khubaib dengan seksama. Selepas shalat, Khubaib pun disalib oleh algojo pilihan kafir-kafir Quraiys.

Tubuh Khubaib dimutilasi hidup-hidup. Darah segar mengalir deras. Salah satu algojo menawarkan, “Apakah kamu ingin Muhammad menjadi penggantimu dan kamu selamat?”

“Demi Allah, saya tidak sudi bersenang-senang berkumpul bersama istri dan anak, sedangkan Muhammad tertusuk duri”. Demikian tandasnya tegas.

 “Ya Allah, ya Tuhan kami! Hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu per satu. Janganlah Engkau tinggalkan satu pun dari mereka!” lanjut Khubaib. Doa ini terdengar jelas oleh Sa’id bin Amir al-Jumahi.

Berselang lama, selepas “pesta” pembunuhan Khubaib, berhari-hari Sa’id dihantui baying-bayang Khubaib. Ia teringat ketika Khubaib shalat, dimutilasi hidup-hidup dan ia masih ingat ucapan dan doa Khubaib. Ia resah dan gelisah.

Dalam keadaan itu, Allah melapangkan dada Sa’id. Sa’id pun hanyut dalam kontemplasi tingkat tinggi. Dan, akhirnya Allah memberinya hidayah Islam. Sa’id masuk Islam.

Sa’id memproklamirkan keislamanya di depan khalayak banyak. Ia tidak takut akan ancaman yang mungkin akan ia dapatkan dari kafirin Quraisy seperti halnya Khubaib.

Waktu pun berlalu. Singkat cerita, Rasulullah saw. wafat. Kemudian Beliau digantikan oleh Abu Bakar. Abu Bakar wafat, dan ia digantikan oleh Umar bin Khathab.

Umar sebagai Amirul Mu`minin (pemimpin orang-orang beriman) mengajak Sa’id untuk membantunya mengurus negara-negara hasil ekspansi (perluasan) wilayah Islam. Umar menunjuk Sa’id sebagai gubernur di Himsh yang terkenal dengan Kuwaifah bentuk kecil dari Kuffah.

“Hai Umar! Aku ingatkan dirimu terhadap Allah. Janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah!” tegas Sa’id.

Umar pun marah dan menimpal, “Celakalah kalian! Kalian menaruh urusan negara ini di atas pundakku. Lalu, kalian berlepas diri dariku. Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu”.

Akhirnya, Sa’id resmi menjadi Gubernur Himsh. Sebelum berangkat ke Himsh, Umar memberinya gaji pertama. Namun, ia menolaknya dengan alas an pemberian dari baitul Mal saja sudah melebihi kebutuhannya.

***
Lama berselang, suatu hari rakyat Hims mengutus beberapa orang kepada Amirul Mu`minin. Salah satu isi pertemuan, Umar meminta data nama-nama fakir di Himsh untuk diberi kompensasi penutup kebutuhan.

Mereka pun menyodorkan data kaum fakir Himsh. Umar membacanya teliti. Umar terperangah ketika pandangannya sampai pada sebuah nama yang sepertinya ia kenal baik. Sa’id bin Amir. Ya, dalam data orang fakir Himsh terdapat naman Sa’id bin Amir.

“Siapa gerangan Sa’id bin Amir ini?”, Umar mengklarifikasi.

“Gubernur kami”, tegas para utusan.

“Gubernur kalian fakir?” Umar kaget luar biasa.

“Benar wahai AMirul Mu`minin. Dan, demi Allah, sudah beberapa hari ini di rumahynya tidak ada api”, tandas para utusan.

Umar pun menangis mendengar jawaban bahwa Sang Gubernur Himsh, Sa’id bin Amir, adalah seorang yang fakir. Kemudian Umar mengambil 1.000 dinar dan memasukkanyya ke dalam sebuah kantong. Perlu diingat, 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas. Jadi, 1.000 dinar sama dengan 4.250 gram. Mau tahu berapa jika dikonversi ke rupiah? Jika 1 gram emas dihargai Rp 512.000, maka 1.000 dinar (4.250 gram) berarti Rp 2,176 Milyar. Wow… Subhanallah. Besar sekali ya?

***
“Inna lillahi wa inna iaihi raji’un…!” Sa;id terperanjat dan segera menjauh begitu kantong yang diberikan para utusan Himsh berisi 1.000 dinar.

“Ada apa wahai Sa’id? Apakah Amirul Mu`minin wafat” Tanya istrinya yang juga kaget.

Sa`id menjawab “ Bahkan lebih besar dari itu”

“Apakah orang? Muslim dalam bahaya?” Tanya istrinya lagi.

“Bahkan lebih besar dari itu”, jawab  Sa`id.

“Apa yang lebih besar dari itu?”Tanya istrinya penasaran.

Sa`id menjawab,” Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku. Dan fitnah telah datang ke rumahku”.

“Bebaskanlah dirimu darinya!” Istrinya menandas.

Apa yang terjadi? Ternyata uang 1000 dinar tersebut Sa’id dan Istrinya bagikan ke orang? Muslim yang fakir di Hims sedangkan Ia tidak mengambil sepeserpun.

Subhanallah…! Dalam keadaan fakir seperti itu, Sa’id bin Amir merasa cukup dan bahagia. Padahal sebagai Gubernur Ia berhak mendapatkan uang yang cukup banyak sebagai timbale balik (gaji) dari pekerjaannya mengurus urusan kenegaraan. Ia punya kesempatan untuk kaya dan kesempatan itu halal baginya. Tapi Ia lebih memilih fakir dan tetap khidmat mengabdi pada Allah.

Pelajaran
Pemirsa yang dirahmati Allah, apa yang dapat kita petik dari kisah ini? Setidaknya ada beberapa hal yang harus kita pelajari dan diaplikasikan. Pelajaran tersebut antara lain:
1. Tidak ada yang mau menjadi pemimpin dalam skala kecil (jam’iyyah, dll.) maupun skala besar (negara). Tetapi, jika amanah itu diberikan, maka kita harus berupaya untuk mengembannya sekemampuan.
2. Latihan meninggalkan “dunia” sebelum meninggal dunia.
3. Berbagi harta selagi ada adalah perbuatan yang hebat. Namun, berbagi di kala benar-benar membutuhkan adalah perbuatan yang sangat hebat.
4. Kita harus merasa cukup atas rezeki yang diberikan Allah melalui pekerjaan atau profesi kita. Sering-seringlah memerhatikan orang yang ada di bawah kita dalam hal materi (harta, uang). Ini membuat kita lebih bersyukur, jika  sadar tentunya.
5. Bangunlah keluarga sakinah sepanjang masa yang salah satunya dengan menyamakan pemahaman dalam agama dan dunia.

0 komentar:

Posting Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...