Minggu, 06 Mei 2012

5 Tingkatan Kualitas Shalat

Shalat merupakan ibadah yang tidak boleh tidak dilakasanakan. Bagaimanapun kondisi saat ini, jika waktu shalat telah tiba, maka kita wajib menjalankannya. Berbeda dengan shaum, jika tidak mampu, ya tidak apa-apa tidak menjalankannya. Yang pasti, di hari-hari yang lain selain Ramadlan, kita wajib menggantinya (qadla).

Ternyata, dalam pelaksanaannya, kualitas shalat yang dilaksanakan berbeda-beda. Atau, seseorang yang shalat, shalatnya terkadang berkualitas tinggi, terkadang rendah. Ini tergantung situasi dan kondisi hati dan raga ketika shalat.


Dalam hal kualitas shalat, Ibnul Qayyim al-Jauziyah mengklasifikasi orang yang shalat kedalam lima kelas. Kelima kelas tersebut antara lain:

1. Mu’aqqab
Mu’aqab artinya disiksa. Hm, kok yang menjalankan shalat disiksa sih? Ya, begitulah, Kawan. Dalam al-Quran jelas ada informasi bahwa kecelakaan bagi orang yang suka shalat, yaitu yang lalai dan riya (lihat Q.S. al-Ma’un [107]: 4-6!).

Kriteria mushalli yang mu’aqqab yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim adalah orang yang mengabaikan aturan-aturan seputar shalat dari mulai waktu shalat, wudlu, sampai rukun-rukun shalat. Shalatnya hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban (formalitas). Orang seperti ini cenderung malas menjalankan ibadah shalat.

2. Muhasab
Muhasab berarti dihisab. Maksudnya adalah shalatnya diperhitungkan oleh Allah. Orang ini mampu menjaga waktu shalat, wudlu, syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, tetapi masih terbatas pada aspek zhahiriyahnya saja. Sedangkan aspek ruhiyah (kekhusyuan) kurang diperhatikan sehingga ketika shalat dijalankan, pikirannya dipenuhi oleh lamunan-lamunan tak berarti.

3. Mukaffar ‘Anhu
Tingkatan ketiga dalam kualoitas shalat menurut Ibnul Qayyim adalah mukaaffar ‘anhu yang artinya diampuni (dihapus) dosa dan kesalahan. Yang menempati tingkatan ini adalah mereka yang mampu menjaga shalat dan segala ruang lingkupnya, kemudian ia bersungguh-sungguh untuk  melawan intervensi setan. Ia berusaha menghalau lamunan dan pikiran yang terlintas.

4. Mutsabun
Tingkatan mutsabun atau yang diberi pahala memiliki ciri-ciri seperti tingkatan Mukaffar ‘Anhu. Lebihnya adalah ia benar-benar iqamah (mendirikan shalat). Ia hanyut dan tenggelam dalam shalat dan penghambaan kepada Allah swt..

5. Muqarrab min Rabbihi
Yang terakhir adalah tingkatan yang paling hebat. Mereka yang menempati tingkatan ini adalah orang yang ketika shalat, hatinya langsung tertuju kepada Allah. Ia benar-benar merasakan kehadiran Allah sehingga ia merasa melihat Allah (ihsan). Tingkatan ini adalah Muqarrab min Rabbihi (didekatkan dari Allah).

Orang yang berada di tingkatan ini bukan hanya menadapat pahala dan ampunan tetapi ia pun dekat dengan Allah karena shalat ia jadikan sebagai penyejuk mata dan penentram jiwa.

Wah.... jika kita bermuhasabah, berada di tingkatan yang manakah kualitas shalat kita? Hm, minimal semoga kita termasuk kelompok Mukaffar ‘Anhu. Maksimal, ya menempati tingkatan Muqarrab min Rabbihi. So, mari kita berusaha terus menjaga shalat kita di setiap waktu. Ingat, shalat itu merupakan rukun Islam yang kedua. Jika lalai dari shalat, berarti kita telah menggugurkan rukun islam yang kedua ini.

Shalat itu tiang agama. Jika shalat ditinggalkan, maka kita meruntuhkan bangunan agama. Oleh karena itu, mari menjaga shalat sebagaimana perintah Allah swt.:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
“Peliharalah semua shalat(mu) dan (peliharalah pula) shalat wustha[1]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan qanit[2]!” (Q.S. al-Baqarah [2]: 238).



Footnote:
[1] Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

[2] Qanit artinya penuh ketaatan. Mematuhi seluruh aturan dalam shalat.

9 komentar:

  1. semoga kualitas shalat kita terus meningkat dari waktu ke waktu dengan berusaha dan meminta pertolongan Allah SWT. amin

    BalasHapus
  2. Izin buat bahan ceramah ibu ibu

    BalasHapus
  3. Izin buat bahan ceramah ibu ibu

    BalasHapus
  4. Rujukannya mohon dicantumkan...jazakallah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Imam Ibnul Qayyim berkata di dalam kitabnya “al-Wabil ash-Shayyib min al-Kalimi ath-Thayyib”,

      Hapus
  5. Ijin buat kultum semoga kultum saya lancar amin

    BalasHapus
  6. Jazakumullah khairal jazaa
    Izin share min

    BalasHapus

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...