Mutiara

"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin lemah. Bersemangatlah terhadap yang memberi manfaat kepadamu, berlindunglah kepada Allah dan jangalah merasa lemah" (H.R. Muslim)

Jumat, 18 Mei 2012

Muslim itu Berakhlak Mulia


Rasulullah dan Makanan Enak
Dikisahkan dalam sebuah riwayat, ada seorang budak wanita bernama Barirah. Suatu ketika, Barirah memiliki makanan enak dan cukup mahal. Ingin  rasanya rumah sederhana yang ia miliki disinggahi oleh Rasulullah saw.. Ia pun mengundang Rasulullah untuk makan di rumahnya.

Hebat. Benar-benar hebat. Selama hidupnya, Barirah belum pernah mendapatkan makan seenak itu. Tapi, ia tidak mau memakannya. Ia ingin makanan enak tersebut dipersembahkannya untuk utusan Allah, Muhammad saw..


Rasulullah pun datang bersama para sahabat untuk menyenangkan hati Barirah. Makanan pun sudah dihidangkan. Para sahabat mengira bahwa Barirah tidak mungkin mampu membeli makanan seenak dan semahal itu. Maklum, Barirah kan seorang budak miskin? Untuk makan sesuap kurma saja ia harus banting tulang perah keringat.

Para sahabat pun berkata, “Rasululah, barangkali makanan ini adalah dari zakat. Sedangkan Engkau tidak boleh memakan zakat dan shadaqah. Kalau bukan dari zakat, ya pasti makanan ini dari shadaqah. Tentunya Engkau tidak boleh memakannya.”

Mendengar perkataan para sahabat, Barirah terpukul hatinya. Ia benar-benar kecewa karena bisa jadi Rasulullah mengurungkan niatnya untuk makan karena memang benar makanan tersebut adalah makanan dari shadaqah. Saat itu, ia tidak ingat bahwa Rasulullah itu tidak menerima zakat dan shadaqah.

Apa yang Rasulullah lakukan? Subhanallah... indah sekali budi pekerti Beliau. “Makanan ini betul shadaqah untuk Barirah dan kini sudah menjadi milik Barirah. Lalu, Barirah menghadiahkan kepadaku. Maka, aku boleh memakannya”.

Barirah pun merasa lega dan bahagia mendengar jawaban bijak Rasulullah saw.. Rasulullah dan para sahabat pun menyantap hidangan yang sudah disediakan Barirah.

Rasulullah dan Pengemis Buta
Ada satu kisah lagi yang menarik. Hampir setiap hari, di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi penyandang tunanetra setiap hari selalu mengatakan sesuatu yang sama kepada semua orang.

“Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Demikian ia berkata. Dari isi perkataannya tersebut mencerminkan bahwa si Pengemis Yahudi sangat benci kepada Rasulullah saw..

Tetapi, setiap pagi Rasulullah saw. mendatanginya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah kata pun. Rasulullah saw. menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan kepada Beliau untuk tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Rasulullah saw. melakukan hal tersebut terus menerus hingga menjelang wafat. Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi yang buta itu.

Abu Bakar r.a. sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah, suatu saat berkunjung ke rumah Aisyah r.a., puterinya. Beliau bertanya kepada Aisyah, “Anakku, adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan?”.

Aisyah menjawab, “Wahai Ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum Ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”.

“Apakah itu?” tanya Abu Bakar.

Aisyah menimpal, “Setiap pagi Rasulullah saw. selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi yang buta yang setiap hari mangkal di sana”.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberinya makanan yang dibawa.

Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, Si Pengemis marah sambil berteriak, “Siapa kamu?”.

Abu Bakar r.a menjawab, “Aku orang yang biasa”.

“Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab Si Pengemis Buta itu.

“Jika ia datang kepadaku tidak susah tanganku ini memegang dan tidak susah mulutku ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia memberikannya kepadaku”. Pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya saja. Orang yang mulia itu kini telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah saw.”.

Mendengar cerita Abu Bakar r.a., Pengemis itu pun menangis, kemudian bertanya hendak meyakinkan, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi. Ia begitu mulia”.

Tak lama berselang, Pengemis Yahudi Buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a..

Subhanallah... Hati yang jauh dari hidayah Allah, hati sekeras batu, hati yang benar-benar benci kepada Raslullah saw., akhirnya menjadi lunak dan patuh hanya karena akhlak mulia yang Raasulullah tunjukkan. Begitu penting akhlak mulia karen ai adalah hiasan manusia. Begitu pentingnya akhlak terpuji, karena ia adalah dakwah yang bisa dilakukan oleh setiap orang.

Kedudukan Akhlak
Akhlak memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Betapa tidak, sekeras-kerasnya hati orang Yahudi dalam kisah di atas, menjadi lunak dan akhirnya menerima Islam hanya karena akhlak Rasulullah yang begitu mulia. Dalam arti, akhlak merupakan strategi dakwah yang efektif. Maka, tempat akhlak berada di tingkatan tertinggi selain aqidah dan syariah.

1. Manifestasi Agam Islam
Akhlak yang mulia merupakan manifestasi (perwujudan) Islam secara utuh. Ini kita sandarkan kepada hadits berikut:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الدِّيْنُ قَالَ حُسْنُ الْخُلُقِ فَأَتَاهُ مِنْ قِبَلِ يَمِيْنِهِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الدِّيْنُ قَالَ حُسْنُ الْخُلُقِ ثُمَّ أَتَاهُ مِنْ قِبَلِ شِمَالِهِ فَقَالَ مَا الدِّيْنُ فَقَالَ حُسْنُ الْخُلُقِ
Seseorang datang kepada Rasulullah dari arah depan. Lalu ia bertanya, “Wahai Rasulullah, apa agama itu?”. Rasulullah menjawab, “Agama itu adalah akhlak yang baik”. Lalu ia mendatangi Rasul dari arah kanannya dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa agama itu?”. Rasulullah menjawab, “Agama itu adalah akhlak yang baik”. Kemudian ia mendatangi Rasulullah arah kirinya dan bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa agama itu?”. Rasulullah menjawab, “Agama itu adalah akhlak yang baik”. (H.R. Muslim).

Berulang kali orang tersebut bertanya kepada Rasulullah tentang arti agama. Tetapi, jawaban Rasulullah singkat padat berisi, “Agama itu adalah akhak yang baik”.

2. Kesempurnaan Islam
Selain sebagai manifestasi Islam seutuhnya, akhlak yang baik merupakan wujud sempurnanya iman seseorang. Artinya, ketika ada seorang muslim berakhlak dengan akhlak yang baik, maka ia diindikasikan sempurna imannya.

Berdasarkan hadits yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan, yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istrinya”. (H.R. Tirmidzi).

3. Tiket Menuju Surga
Selanjutnya, akhlak merupakan tiket utama selain takwa untuk masuk surga. Rasulullah saw. bersabda:
سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ. قَالَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ. فَقَالَ اَلْفَمُ وَ الْفَرَجُ
Rasulullah ditanya tentang sesuatu yang akan memasukkan manusia ke dalam surga. Rasulullah menjawab, Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik. Rasulullah pun ditanya tentang sesuatu yang bisa memasukkan seseorng kepada neraka. Rasulullah menjawab, Mulut dan kemaluan”. (H.R. Tirmidzi).

4. Mendapat Kehormatan dan Duduk Dekat Rasulullah saw. di Surga
Orang muslim  yang berakhlak mulia akan mendapat kehormatan menjadi orang yang paling disayangi oleh Rasulullah dan tempat duduknya di surga paling dekat dengan Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحِبَّكُمْ إِليَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
“Sesungguhnya orang yang paling aku sayangi dan lebih dekat padaku majlisnya pada hari kiamat ialah orang-orang yang akhlaknya paling baik diantara kamu”. (H.R. Tirmidzi)

Sebenarnya masih banyak keistimewaan lain dari akhlak mulia. Namun, kiranya empat point tersebut bisa menjadi motivasi bahwa akhlak yang mulia itu adalah hiasan diri yang akan mengindahkan seseorang ketika aqidah sudah kokoh dan ibadah sudah benar. Selain sebagai hiasan, akhlak merupakan pundi amal yang nyata akan diganjar dengan kebaikan melimpah. Dan, sekali lagi, akhlak mulia merupakan dakwah efektif yang bisa dilakukan oleh setiap muslim.

Akibat Akhlak Buruk
Sebaliknya, ketika seseorang memiliki akhlak yang buruk, maka keuntungan sebagaimana disebut, tidak akan diraih dan si pelaku akhlak buruk akan mendapat ganjaran setimpal dengan keburukannya.
Ada banyak hal tentang akibat berakhlak buruk. Diantaranya sebagaimana yang disebut dalam beberapa hadits berikut:

1. Akhlak Buruk Merusak Amal
Akhlak buruk ternyata akan menghapus amal yang telah dikerjakan. Rék untung kalah buntung. Hal ini dilansir oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad sebagai berikut:
وَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا الشُّؤْمُ قَالَ سُوْءُ الْخُلُقِ سُوْءُ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ
Ditanyakan kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apakah kecelakaaan itu?”. Rasulullah menjawab, “Buruk akhlak itu akan merusak amal sebagaimana cuka merusak madu”.

2. Pahala Shaum dan Shalat Menjadi Hangus
Akhlak yang buruk juga akan menihilkan nilai di hadapan Allah swt.. Dalam hal ini, representasi (perwakilan) amal sia-sia yang dijelaskan dalam hadits adalah shaum dan shalat.
قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ ص إِنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَارَ وَتَقُوْمُ اللَّيْلَ وَ هِيَ سَيِّئَةُ الْخُلُقِ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا قَالَ لَا خَيْرَ فِيْهَا هَيَ مِنْ أَهْلِ النَّار
Dikatakan kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya si Fulanah shaum di siang hari dan tahajud di malam hari. Namun akhlaknya buruk. Ia suka menyakiti hati tentangganya dengan mulutnya”. Rasulullah bersabda, “Tidak ada kebaikan pada diri Fulanah itu. Ia termasuk ahli neraka”. (H.R. Ahmad).

Hal tersebut sepadan dengan hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Tirmidzi yang menjelaskan tentang sosok muflis (bangkrut). Siapakah yang muflis itu? Ternyata, bukan yang gulung tikar dalam bisnisnya. Bukan pula yang, boro-boro dapat laba, modal pun tidak kembali. Tetapi, muflis itu adalah orang yang ketika menghadap Allah untuk dihisab, ia datang membawa pahala shalat, shaum dan zakat. Hanya saja, di samping getol beramal, ia pun senang merendahkan dan menghina orang lain. Ia pun suka memakan harta orang tanpa hak. Pernah pula ia memukul dan membunuh seseorang.

Apa yang terjadi selanjutnya? Rasulullah menjelaskan bahwa pahala orang tersebut  digunakan untuk melunasi kesalahan-kesalahannya kepada orang lain. Hal itu terus berlanjut sehingga pahala shalat, shaum dan zakatnya habis digunakan untuk menebus.

Namun, ketika pahala sudah habis, orang-orang yang pernah dizaliminya terus berdatangan meminta pertanggungjawaban darinya. Karena tidak ada lagi pahala yang ia miliki, kini terbalik, kesalahan orang yang dizalimi ditanggungkan oleh Allah kepadanya. Akhirnya, kesudahan orang tersebut bukan happy, tetapi malah gigit jari. Ia dilemparkan ke dalam api neraka. Na’ūdzu billāhi min dzālik.

Begitulah sosok muflis (bagkrut). Banyak amal tapi nihil pahala. Ini disebabkan akhlak yang buruk. Maka, mari kita menjauhi akhlak buruk dan menanamkan akhlak mulia di dalam diri kita.

Khatimah
Begitu dahsyatnya akibat akhlak yang baik. Membuat kita menjadi terhormat di hadapan manusia, pun di hadapan Allah swt.. Namun, begitu dahsyat pula akibat akhlak yang buruk. Membuat seseorang menjadi bangkrut pahala. Membuat seseorang masuk neraka, padahal amal-amalnya hebat dan luar biasa.

Oleh karena itu, mari jauhi akhlak buruk dan terapkan akhlak baik di dalam diri kita. Akhlak hati, akhlak pikiran, dan akhlak badan. Semoga dengan begitu, kita menjadi orang mulia yang pada ujungnya masuk  surga, āmīn. Wallāhu a’lam n Yusuf Awaludin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...