Jumat, 30 Agustus 2013

Sedekah itu Menyembuhkan



Sudah menjadi fitrah manusia bahwa hidup itu naik-turun, hitam-putih, lurus-berkelok. “Life is never flat”, demikian bunyi iklan di televisi. Salah satu keadaan yang berganti dalam waktu tertentu adalah sehat dan sakit. Hanya, saya kira seringnya kita merasa sehat ketimbang sakit. Iya kan?

Nah, dalam keadaan sakit tengah menjangkit, kita perlu melakukan hal-hal besar. Diantaranya adalah sabar. Sabar dimaksud bukanlah diam, pasif dan tidak mengupayakan kesembuhan. Sabar itu sebuah kata untuk menggambarkan kekuatan dan ketegaran diri dalam menghadapi ujian, kemudian dengan tekad yang kuat mencari solusi agar ujian tersebut segera bertepi dan hikmah ruah didapat. Pun ketika sakit, hal ini berlaku.

Diantara upaya yang perlu dilakukan adalh berobat. Ya, berobat adalah kemestian jika kita ingin sembuh. Terlepas dari keyakinan antara ke herbalist atau medis, berobat merupakan manifestasi ketataan kepada Allah dan Rasulullah. Jadi, berobatlah, dan insya Allah jika sudah waktunya Anda psti sembuh.

Tahukah Anda bahwa ada ajaran Islam sebagai obat untuk penyakit? Jika sudah tahu, sykur deh. Namun jika belum tahu, ini saya sajikan sebuah hadits yang matan atau isinya mengajarkan berobat dengan sebuah amalan ringan berdaya besar.

Apa itu? Oke, kalau penasaran, teruskan membaca!

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
دَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَحَصِّنُوا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَأَعِدُّوا لِلْبَلاَءِ الدُّعَاءَ
“Obatilah yang sakit diantara kalian dengan sedekah, bentengilah hartamu dengan zakat dan siapkanlah doa untuk menghadapi ujian” (H.R. Baihaqi).

Dalam matan hadits ini, salah satu perintah Allah SWT adalah berobat dengan sedekah. Namun, sayang, hadits ini dipandang mursal oleh para ahli hadits. Terdapat seorang rawi di dalam sanadnya yang termasuk munkar, yaitu Fudhal bin Jubair. Jadi, hadits ini tidak bias dijadikan hujjah oleh kita.

Meskipun begitu, pada realitas ilmiahnya, ternyata disimpulkan bahwa sedekah itu menyembuhkan. Bagaimana “kronologi” penyembuhan melalui sedekahnya? Yuk sedikit saya ungkap.

Sedekah itu mesti membekas bahagia di dalam hati pelakunya. Jika setelah sedekah hati polos tanpa bahagia, ada yang salah dengan amal sedekahnya. Mungkin saja, niatnya karena ingin dipandang dermawan. Mungkin juga karena terpaksa memberi. Atau, mungkin pula karena terbawa arus orang lain yang bersedekah, daripada malu mendingan bersedekah. Gitu kali ya…. J

Kenapa harus membekas bahagia di hati setelah bersedekah? Ini dia jawabannya…

Pemirsa, ketika kita bahagia secara alamiah kelanjar di dalam otak memproduksi hormone endorphin. Fungsi dari hormon ini adalah untuk menenangkan diri karena tergolong zat opiat seperti halnya morfin, dan sebagai natural pain killer alias pembunuh rasa sakit yang alami seperti kinerja alagesik pada obat-obat tertentu.

Dalam bersedekah, kebahagiaan di hati tergantung niat dan jumlah sedekah. Sedekah dengan Rp 10.000 akan lebih nikmat dan bahagia ketimbang sedekah dengan Rp 1.000. Benar kan? Sedekah dengan Rp 100.000 lebih besar kenikmatan dan kebahagiaannya daripada sedekah dengan Rp 10.000. Iya kan?

Nah, ketika semakin besar kuantitas sedekah, kemudian semakin besar kebahagiaan di hati; maka semakin banyak produksi endorphin. Dan, semakin banyak produksi endorphin, semakin memugkinkan untuk sembuh dari penyakit atau tetap semakin sehat bagi yang tidak sakit.

Kenapa? Sekali lagi, endorphin fungsinya ada dua:
1. Tergolong zat opiat seperti morfin: untuk menenangkan badan
2. Natural pain killers: pembunuh rasa sakit alami.

So, mari bersedekah… Sering, besar dan semakin ikhlas...

Siaaappp…???

0 komentar:

Posting Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...