Muqadimah
Begitu Rasulullah
saw. menyampaikan risalah dakwahnya dan masyarakat Quraisy banyak yang terbuka
hati untuk menerimanya, para pemuka Quraisy terus mencari cara agar arus dakwah
Rasulullah terblokade dan tidak terestafet ke generasi setelahnya. Satu diantara
manuver kafirin Quraisy mengarah pada
sisi sensitivitas Nabi sebagai manusia biasa. Nabi dibuat sakit hati, sedih,
merana dan galau oleh stigma-stigma (pernyataan negatif) kafirin Quraisy. Dan,
diantara stigma itu adalah Nabi disebut sebagai al-abtar.
Beberapa lama
setelah al-‘Ash bin Wa`il berbincang dengan Rasulullah, sekelompok pembesar
Quraisy bertanya kepadanya, “Dengan siapa kamu berbincang?”. Ia menjawab,
“Bersama orang itu yang abtar”.









