Sabtu, 24 November 2012

Anak-Anak itu Unyu-Unyu



“Pasif” tapi Aktif
Dalam sesi rapat verifikasi yang dihadiri oleh guru-guru di sekolahku mengajar, ada hal-hal yang membuat kami tersenyum. Bahkan ada rekan ngajar saya yang ngikik tertawa kecil. Pasalnya, ketika setiap wali kelas dari kelas satu sampai kelas 6, ada “pengaduan” salah seorang wali kelas tentang anak didiknya yang unyu-unyu.

Ada seorang siswa kelas satu yang membuat guru kelasnya kewalahan. Sebut saja namanya MIA (laki-laki). Setiap belajar di dalam kelas, MIA tidak pernah menyimak penjelasan guru tentang pelajaran dengan baik. Kerjaanya hanya duduk, diam, tiduran, malasa menulis, enggan jika diperintah membaca. Bahkan terkadang MIA mengganggu anak lain yang sedang konsentrasi belajar.

Hal itu saya rasakan juga, karena memang saya mengajar bahasa Inggris di kelas tersebut. Ketika saya sedang menjelaskan materi ajar di depan kelas, MIA tidak pernah duduk dan diam menyimak. Ketika dihampiri, ternyata tidak ada tulisan satu kalimat pun di buku catatannya. Saya tanya, “Kenapa kamu tidak menulis, MIA?” Ia hanya memandang kosong tanpa ada satu pun kata terucap.

Satu hal yang sering membuatku tersenyum tentangnya adalah setiap kali saya hendak memulai pelajaran, ia sering mengingatkanku untuk segera merubah tanggal di pojok kanan atas papan tulis. Saya pun segera menuruti “perintah”-nya tidak lupa diringi senyuman manis ke wajahnya.

Padangan guru tentang ketidakaktifan MIA dalam KBM tidak bisa dielakkan. Namun, saya yang kebetulan sudah membaca bukunya Pak Munif Chatib, Sekolahnya Manusia, tidak mau memandang bahwa MIA anak yang pasif. Pasalnya, sesuai buku Sekolahnya Manusia, sekolah unggul adalah sekolah yang memandang tidak ada siswa yang bodoh dan semua siswanya merasakan tidak ada satu pun pelajaran yang sulit.

Masih dalam buku tersebut dijelaskan, “Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas; dan para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Kelas tersebut akan hidup.”

Ini berarti tuntutan untuk guru bahwa tidak boleh ada dikotomi terhadap anak-anak didik. Guru itu harus adil dalam KBM termasuk adil dalam pandangan terhadap siswanya.

Meskipun MIA dianggap “negatif”, tetap saja saya meyakinkan diri bahwa ia adalah anak yang baik dan suatu saat ia pasti berubah dan menjelma menjadi anak yang berprestasi.

Kembali kepada curhat guru kelasnya MIA. Setelah guru tersebut menguraikan singkat keadaan MIA yang dipandang eksklusif dibanding anak lain, ia menjelaskan hasil belajar yang berbanding terbalik dengan aktivitas belajar MIA. Prestasi belajar MIA tidak buruk bahkan bisa dipandang cukup.

Dalam mata pelajaran Bahasa Inggris yang saya ajarkan misalnya, MIA mendapat skor akhir 95 jauh melampaui anak-anak yang dipandang lebih baik daripada MIA. Aneh bin ajaib. Kami, khususnya saya sendiri, merasa kaget dan heran dengan MIA. Kok bisa seperti ini? Dipandang tidak aktif dalam KBM tetapi hasilnya memukau. Prestasinya itu, tidak hanya dalam Bahasa Inggris, tetapi juga pada pelajaran-pelajaran yang lain. Subhanallah...

Pelajaran Berharga
Dari kisah nyata tersebut, saya semakin yakin bahwa setiap anak itu unik. Jangan sekali-kali kita (baca: saya) menjustifikasi bodoh, tolol, dll., terhadap anak. Menurut ajaran Multiple Intelligence-nya Howard Garner, kecerdasan anak itu tidak terpatri pada ranah kognitif saja, melainkan ada delapan kecerasan yang semuanya bisa menjadi standar yang parsial. Depalan kecerdasan tersebut antara lain:

KECERDASAN BAHASA, yaitu kemampuan mengolah dan menggunakan kata secara efektif dan efisien.

KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS, yaitu  kemampuan untuk menalar dan menghitung.

KECERDASAN KINESTETIK-JASMANI, yaitu kemampuan mengolah tubuh dan gerak.

KECERDASAN MUSIKAL, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan irama dan suara.

KECERDASAN INTERPERSONAL, yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan kerjasama dengan orang lain.

KECERDASAN INTRAPERSONAL, yaitu kemampuan untuk memahami kekuatan dan kelemahan diri.

KECERDASAN NATURALIS, yaitu kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

KECERDASAN SPASIAL, yaitu kemampuan untuk membayangkan sesuatu dan mewujudkannya secara visual.

Nah, jika sudah jelas demikian, masihkah kita menggunakan standar IQ untuk mengukur anak? Padahala kecerdasan anak itu beragam?

Pendidik yang bijak dan bajik tidak pernah menganggap anak didiknya bodoh. Pendidik yang bijak dan bajik selalu menyimpulkan bahwa setiap anak didik itu unik dan berkecerdasan yang unik pula. Dengan demikian, proses belajar mengajar akan dirasa menyenangkan karena di kepala tidak ada lagi pikiran negatif tehadap anak didik yang “nyeleneh” dari perilaku anak pada umumnya. Dada akan plong dan begitu keluar kelas, kita pun merasa bahagia.

Ada sebuah riwayat, seorang anak lelaki digendong oleh Nabi Muhammad saw.. Lalu anak itu pipis. Ibunya segera merebut anaknya itu dari Nabi dengan kasar. Mungkin karena malu dan menghormati Nabi.

Nabi kemudian bersabda, “Bu, bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan?”.

Riwayat tersebut menyiratkan bahwa anak didik itu manusia yang memiliki akal, pikiran dan perasaan. Jangan lukai hatinya dengan sebutan yang negatif. Sebutan negatif bagi anak akan berbahaya karena bisa jadi berpengaruh pada justifikasi dirinya terhadap dirinya sendiri. Jika anak sudah menyimpulkan bahwa hal negatif yang dialamatkan kepada dirinya itu adalah benar dan realitas, maka anak akan menjadi inferior yang pada akhirnya ia tidak berkembang semestinya.

0 komentar:

Posting Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...