Jumat, 23 November 2012

Pendidik Keren dan Hebat: Mendidik dengan Skill, Hati, dan Sabar



Mendidik merupakan pekerjaan yang memerlukan skill, hati, pikiran dan sabar. Karena, mendidik itu bukanlah membuat anak mendadak baik. Perlu proses. Dan, proses ini akan bisa ditempuh jika para pendidik ber-skill (kompetensi) baik, melibatkan hati dan pikiran, dan sabar dalam menempuhnya.
 
Pertama, masalah skill. Mendidik itu perlu seni. Mendidik dengan seni mampu lebih baik daripada mendidik flat, tanpa seni. Oleh karena itu, para pendidik, wa bil khushus para guru di sekolah, hendaklah terus mengasah gaya mendidik yang baik dan cocok (skill, kompetensi) bagi anak-anak dengan ragam gaya belajar masing-masing. Menyesuaikan gaya mendidik dengan gaya belajar anak merupakan salah satu faktor pendorong kemajuan peserta didik.

Jika anak-anak dominan di otak kanan, suka seni, suka lagi, suka menggambar, maka guru dengan style ngajar yang nyeni membuat pembelajaran lebih hidup ketimbang yang ngajarnya flat-flat saja. Jika anak-anak suka petualangan, sosial yang tinggi, bergumul dengan lingkungan, maka mendidik dengan gaya eksplorasi, metode wisata, lebih membuat pembelajaran semakin meriah bagi anak.

Kedua, masalah hati dan pikiran. Guru atau tepatnya pendidik adalah manusia yang mengajar manusia. Sebagai manusia anak tentunya memiliki rasa dan pikir. Maka, guru yang hebat akan mendekati wilayah rasa dan pikir anak sehingga anak termotivasi untuk giat belajar.

Dalam hal ini, seorang pendidik dilarang menjustifikasi negative terhadap anak didiknya. Ketika ada seorang siswa selalu saja mendapatkan nilai di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal), sebuah nilai standar lulus dan tuntasnya siswa belajar, guru hedanknya tidak mengatakan, “Kamu ini bodoh. Nilaimu kok buruk terus. Tuh lihat yang lain bagus-bagus nilainya!”. Artinya, tidak ada statement guru yang negatif terhadap anak didiknya. Statement negatif tidak akan membat anak didik lebih baik. Yang ada adalah si anak akan mengakui dirinya sendiri adalah orang bodoh. Ini bahaya bagi psikologis anak. Hilang motivasi. Hilang asa.

Guru atau pendidik tidak usah pusing jika ada anak yang nilai ulangannya buruk, padahal sudah berulang kali ia dididik intensif. Sudah lah tidak usah fokus pada hasil belajar pada ranah kognitif. Masih banyak kecerdasan anak yang perlu digali. Kecerdasan-kecerdasan tersebut bisa diistilahkan Kecerdasan Multi alias Multiple Intelligence yang digagas oleh Howard Garner.

Jika guru atau pendidik keukeuh menyatakan bodoh terhadap anak yang prestasi akademiknya buruk, maka guru ini sedang tidak menjunjung nilai keadilan. Bodoh itu banyak macamnya. Bodoh itu bukan hanya di ranah kognitif. Jika anak disebut bodoh padahal anak masih memiliki kelebihan dan kecerdasan lain, maka guru tidak adil.

Sekali lagi, kognitif hanya sebagian kecil dari kecerasan manusia. Terlalu buru-buru jika guru menyatakan bodoh terhadap anak hanya gara-gara nilai raport-nya di bawah rata-rata. Bagusnya, tengok dulu apa saja kecerdasan yang dimiliki anak yang “bodoh” ini. Saya yakin, masih ada kans bahwa anak ini cerdas di bidang lain. Thomas Alfa Edison merupakan salah satu contoh anak “bodoh” berprestasi.

Maka, mendidik itu memerlukan hati dan pikiran yang positif. Positiflah memandang peserta didik. Positiflah dalam merespon segala hasil belajar anak. Kemudian, tetapkan tindakan yang tepat untuk merubah atau meningkatkan hasil belajarnya. Itu lebh muia bagi guru.

Ketiga, masalah sabar. Menurut para ulama sabar itu ada tiga, yakni sabar dalam taat, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menghadapi musibah. Bagi guru, ketiga kesabaran ini harus benar-benar diinternalisasikan di dalam diri.

Sabar dalam taat berarti sabar dalam menjalan seluruh tugas dan kewajiban guru dari mulai administrasi guru, pelaksanaan sampai evaluasi dan tindakan. Menyusun lesson plan atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan sesuatu yang tidak mudah, tetapi akan menjadi mudah jika bersabar membiasakannya. Memilih dan menggunakan style ngajar itu juga tidak mudah, tetapi akan menjadi mudah jika guru bereksplorasi diri dan siap melakukan improvisasi.

Sabar dalam meninggalkan maksiat berarti guru tidak berkeluh kesah menghadapi segala problem pembelajaran. Guru tidak melakukan hal-hal negatif dalam pembelajaran. Guru tidak melabeli anak dengan label negatif. Guru tidak memberikan punishment yang tidak mendidik. Secara global, guru tidak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan. Bersabar itu membuat hati plong yang mudah-mudah rezeki pun menjadi plong.

Sabar dalam menghadapi musibah berarti guru mesti sabar ketika apa yang diinginkannya tidak 100 % terwujud. Guru tentunya ingin anak-anak menjadi orang yang baik, cerdas, dan saleh. Tetapi ketika ada anak yang membandel, berbuat anarkis, mengacau saat PBM, maka guru harus bersabar menghadapinya. Guru pun pasti ingin mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi hajat hidup, tetapi apalah daya tangan tak sampai, guru mesti sabar ketika honor yang didapatnya hanya cukup untuk kebutuhan satu minggu saja.

Saya merasa miris dan iba ketika ada seorang ibu guru, pulang ngajar langsung kerja jadi tukang cuci piring. Ada pula sang Kepsek di sebuah sekolah yang berprofesi sampingan sebagai pemulung sampah. Saya berharap, ibu guru dan pak Kepsek bisa bersabar, dan tentunya semoga Allah memberikan kecukupan rezeki untuk ereka berdua dan siapa pun guru yang semisal mereka.


Bravo Pendidik dan Pendidikan…!!!

0 komentar:

Posting Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...