Kamis, 15 November 2012

Hijrah itu Berubah



Alam Berhijrah
Apa jadinya jika air tergenang tidak mengalir? Tentunya, menurut logika ilmiah, air tersebut akan menjadi sarang nyamuk, bakteri dan akhirnya menyebabkan penyakit.

Apa pula jadinya jika badan tidak bergerak dalam jangka waktu yang lama? Saya kira tubuh akan terasa kaku dan mungkin terjadi sakit pada otot-otot.

Kemudian, apa jadinya jika angin tidak bergerak? Saya kira kehidupan akan berakhir seketika karena oksigen yang dibutuhkan manusia dan makhluk hidup lain tak dapat dihela.

Pun dengan pisau, jika ia dibiarkan dan tidak digunakan atau tidak diasah? Yang pasti adalah pisau tersebut akan tumpul dan berkarat.
 
Ikhwata imān, hal-hal yang dilakukan oleh air, badan, angin dan pisau tersebut mengisyaratkan suatu “ajaran” bahwa bergerak adalah suatu hal yang niscaya dilakukan jika menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik. Dalam bahasa agama, hal ini disebut dengan istilah hijrah.
      
Esensi Hijrah
Hijrah berarti pindah. Pindah berarti bergerak. Dan, bergerak berarti beralih dari suatu keadaan kepada keadaan lain.

Pertanyaannya adalah, kenapa harus berhijrah? Secara global jawabannya, untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Rasulullah berhijrah dari Mekah ke beberapa kota termasuk Madinah, tiada lain tujuannya adalah untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik yang dalam hal ini adalah ketentraman, kenyamanan dan kebebasan hidup dari tekanan dan gangguan orang kafir. Hijrah yang Rasulullah lakukan ini dinamakan hijrah makaniyyah (pindah tempat).

Namun, lebih dari itu, hijrah tidak hanya terpaku pada perpindahan tempat untuk memeroleh tujuan yang dimaksud. Hijrah secara esensi bisa diaplikasikan dengan mengadakan perpindahan dari keadaan diri yang buruk menuju diri yang lebih baik. Ini dilakukan untuk memeroleh kebaikan.

Malas itu penyakit. Dan, malas itu identik dengan jauhnya diri dari rezeki. Tidak ada orang malas yang mendapat rezeki materi (baca: uang, makanan, dll.). Keadaan jauh dari rezeki ini merupakan suatu hal yang buruk. Nah, untuk merubah keadaan buruk ini, diperlukan perubahan diri dari malas menjadi giat.

Namun, adakah jaminan bahwa orang giat itu pasti dekat dengan rezeki? Wallāhu a’lam. Allah yang mengatur urusan ini. Logika kita tidak usah ikut nimbrung. Meskipun dengan tegas hukum kausalitas berbicara bahwa tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Tidak akan ada akibat jika tidak ada sebab. Kita hanya diwajibkan berusaha dan tidak diwajibkan beroleh hasil besar. Hasil, Allah yang empunya urusan. Namun, bagaimanapun juga, hasil besar perlu direncanakan.

Kembali ke masalah esensi bahwa hijrah itu merubah diri menjadi lebih baik. Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan, untuk memahami diri apakah sudah baik ataukah masih buruk, tidak usah bertanya kepada orang lain. Istafti qalbaka! Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri! Demikian kiranya sikap yang tepat. Muhasabah diri alias introspeksi.

Setelah itu, mari berubah.... Semoga dengan perubahan diri menjadi lebih baik, kita bisa merasakan manisnya hasil perjuangan diri. Manis di dunia, manis pula di akhirat.
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُوْا مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوْا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sebelum mereka merubah diri mereka sendiri”
(Q.S. ar-Ra’du [13]: 11)

0 komentar:

Posting Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...