Istri dan Anakku. Subhanallah...

Dunia itu perhiasan. Dan, perhiasan yang paling indah adalah istri yang salehah. Menikahlah, jika Anda menghendaki surga dunia.

Training Jurnalistik

Menyampaikan pelatihan menulis bertajuk "Seni Menulis Artikel" di hadapan santriwati PPI 67 Benda Tasikmalaya.

Berseminar

Sedekah itu Luas. Jika Anda punya ilmu, sedekahkan ilmu Anda, niscaya bertambah berkah.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 22 Maret 2011

Proud Be A Moslem


Aku bangga menjadi seorang muslim. Azamkan kalimat tersebut di dalam hatimu. Lalu siram dengan ketulusan karena Allah. Beri pupuk akhlaqul karimah. Maka, akan kuncuplah bunga-bunga amaliah yang shalih dan pada akhirnya semua akan diganjar dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang sebenarnya di dunia sampai ke akhirat.
Kawan, banggakah kamu terlahir sebagai seorang muslim? Banggakah kamu bertuhankan Allah? Banggakah kamu memiliki uswah Rasulullah? Banggakah kamu memunyai kitab suci Al Quran? Banggakah kamu dengan tuntunan Islam?
Mari evalusai diri dengan jujur! Ketika kamu dihadapkan pada dua hal antara pengajian dan mojok sama temen di mall, kamu pilih mana? Ketika kamu diajak ta’lim dan secara bersamaan ada konser musik band papan atas nasional, kamu mau ke mana? Pada suatu saat kamu diundang ke acara tasyakur bin ni’mah dan temanmu yang lain mengundangmu ke havingfun party, kamu memenuhi undangan yang mana?
Jika kamu bangga dengan label diri sebagai muslim, kamu pasti lebih memilih pengajian daripada harus mojok di mall rame-rame. Kamu akan berangkat untuk ta’lim ketimbang ke konser musik yang buang-buang waktu itu. Kamu juga akan memenuhi undangan tasyakuran dibanding ke party tadi.
Tapi, jika sebaliknya, kamu lebih memilih mojok di mall, konser musik band, dan party, berarti kamu tengah menunjukkan sikap ketidakbanggaan sebagai seorang muslim. Sikap inilah yang justru akan menghancurkan identitas dirimu sebagai muslim. Cuma label doang yang bagus, padahal komposisinya nihil. Kemasannya minuman susu, tetapi isinya bermelamin, so pasti akan membahayakan bagi kesehatan tubuh. KTP-nya beragama Islam, tapi hatinya bangga dengan gaya hidup yang bebas dari nilai-nilai agama (free value of religion). Ngakunya umat Rasulullah, tapi idolanya bukan Rasulullah, malah bandplayer, artis, bintang film, ilmuan non-muslim, dll.. Al-Islamu mahjubun bil muslim. Perkembangan Islam dihalangi oleh orang Islam sendiri. Exactly jika ungkapan tersebut ditujukan untuk fenomena di muka.
So, agar agama tercinta ini berkembang dan melebarkan sayapnya, berbanggalah menyandangnya. Tetaskan kebanggaanmu menjadi aplikatif dengan sikap dan prilaku yang sesuai dengan pola-pola kehidupan berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya yang mulia.
Jika kamu lebih senang shoping padahal bukan untuk kebutuhan yang sifatnya primer bahkan sekunder sekalipun, mendingan tabungin aja uangnya dan tunaikan infaqnya biar hartamu menjadi bersih dan jiwamu menjadi suci.
Kalau kamu lebih happy dengan nongkrong pinggir jalan sambil ngegonjreng gitar tak karuan, mulai sekarang persediaan waktu untuk nongkrong tersebut lebih bermanfaat jika digunakan untuk kajian, biar ilmumu bertambah banyak.
Bila kamu sebagai seorang gadis enjoy dengan pakaian-pakaian minim, superketat, transparan, melihatkan sekwilda alias -afwan ya- sekitar wilayah dada, let’s change it dengan pakaian-pakaian gaul ala Islam, yakni yang nutup aurat dari ujung rambut hingga ujung kaki kecuali yang boleh nampak (wajah dan telapak tangan).
Satu lagi, jika kamu bangga dengan Islam, tunjukkanlah semangatmu dalam beraktivitas positif terutama yang terkait dengan kegiatan-kegiatan keislaman di Rohis, Irema, Kohati, dll.. Semangatmu adalah modal awal demi tegaknya agama tercinta ini. Semangatmu adalah bahan bakar untuk menggerakan roda-roda Islam menuju kejayaan.
Intinya, kamu kudu bangga terlahir sebagai seorang muslim, karena umat Islam adalah umat terbaik sepanjang masa. Allah swt. berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali Imran [3]: 110).
Untuk menjadi umat terbaik sebagaimana ayat tersebut, syarat-syaratnya adalah, pertama, menyuruh kepada yang ma’ruf, yaitu kebaikan yang bersifat normatif secara kemanusiaan dan juga agama. Seperti santun dalam berbicara, saling membantu, bekerjasama, salang menghargai, dll..
Kedua, men-taghyir atau menghilangkan kemunkaran, yakni perbuatan yang dipandang buruk dan tidak pantas untuk dilakukan, misalnya, meninggalkan salat dengan sengaja, durhaka kepada ortu, berbohong, dll..
Ketiga, syarat agar menjadi umat terbaik adalah beriman kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Iman itu terdiri dari 3M, yaitu mengakui, membenarkan dan mengamalkan. Iman kepada Allah berarti mengakui bahwa Allah sebagai yang haq untuk diibadahi, membenarkan ketuhanan dan aturan-aturan Allah, serta menyatakan keimanan tersebut dengan wujud amal ibadah dan akhlaq yang mulia dihadapan manusia.
Berani menjadi umat terbaik…??? Berbanggalah dengan labelmu sebagai muslim dan tetaskan kebanggaanmu dengan amal-amal shalih! Allahu akbar…!!!

Minggu, 20 Maret 2011

Muslim Tapi Bukan "Muslim"


Makna Muslim
Predikat “muslim” diberikan kepada seseorang yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan segala konsekuansinya. Menyerahkan diri merupakan simbol kepayahan dan ketidakberdayaan melawan sebuah kekuatan. Para teroris penyandera misalnya, jika mereka sudah tidak kuasa atau takut menghadapi ancaman bahkan serangan polisi dengan pesenjataan lengkap, kemungkinan besar mereka akan menyerahkan diri. Mereka menyerahkan diri bukan untuk satu tujuan yang cukup konyol. Mereka menyerahkan diri adalah dengan pertimbangan yang sangat matang yakni agar mereka masih bisa menghirup udara segar serta masih bisa menyaksikan indahnya alam raya. Karena kalau mereka bersikukuh melawan, mereka sadar akan dilahap oleh timah panas para polisi.

Pun dengan kita, kita tidak akan sanggup melawan kemahakuasaan Allah yang begitu dahsyat. Kita tidak akan mampu menghadapi adzab Allah yang begitu luar biasa. Kita tidak akan bisa menangani siksa neraka yang sangat mengerikan. Oleh karena itu lah, kita menyerahkan diri kepada Allah, tentunya dengan pertimbangan yang cukup matang, dengan maksud agar kita tidak menjadi objek sasaran yang akan dilahap “timah panas” milik Allah swt.. Peyerahan diri kepada Allah ini lah yang kemudian dinamakan dengan “islam”, dan orang yang melakukan penyerahan diri dinamakan “muslim”. Jadi muslim adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah setelah menyadari bahwa Allah adalah yang kuasa menciptakan, memelihara dan mengatur sistem eksistensi alam (tauhid rububiyah); meyakini bahwa Allah adalah Dzat yang hak untuk diibadahi (tauhid uluhiyah) dan mengimani bahwa Allah memiliki sifat dan nama-nama mulia yang yogya kita teladani (tauhid asma wash-shifat).

Karena telah menyerahkan diri kepada Allah, maka hak mutlak Allah atas kita mesti dipelihara. Artinya, kita tidak boleh tidak untuk menuruti aturan Yang Maha Memiliki kekuatan sejati. Tidak taat aturan berarti siap untuk menerima “timah panas” dari-Nya, karena ketaatan adalah jaminan bahwa kita masih menyerahkan diri. Tidak taat berarti jaminan tersebut sudah hilang alias sebutan muslim tidak pantas disandang. Jika bukan muslim, sebutan yang cocok adalah “kafir”, yakni orang yang siap “berperang” dengan Allah dengan segala konsekuensinya (mendapat adzab).

Apa saja konsekuensi bagi orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah? Jawabannya terdapat dalam al Quran Surat Adz Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Jadi, jelas bahwa setiap orang yang yang mengaku berserah diri (muslim), ia wajib melayani kehendak Allah dengan melaksanakan ibadah yang diringi keikhlasan hati serta kaifiyat yang selaras dengan syariat.

Muslim Tapi Bukan “Muslim”(?)
Menyaksikan fenomena akhlak orang-orang yang mengaku muslim di negara tercinta kita saat ini, kita bisa memberi simpulan bahwa kebanyakan kaum muslimnya bukanlah “muslim”. Mereka hanya muslim dalam indentitas diri saja (KTP, SIM, dll.) sedangkan dalam identitas akhlak, -sebagian besar- tidak sama sekali.

Banyak muslim yang jarang salat lima waktu bahkan tidak sama sekali. Padahal salat  lima waktu adalah aktivitas harian yang mesti dijalankan oleh setiap muslim. Banyak juga orang muslim yang demen berjudi sekalipun sudah jelas dan tegas dalam al Quran bahwa, judi hukumnya haram. Di dalam pemerintahan, banyak pejabat-pejabat muslim yang sadar bahwa Allah memonitornya, tetapi mereka “asyik” melipat uang rakyat.

Di samping itu, kaum perempuan muslim banyak yang “lupa” dengan auratnya. Mereka obral aurat bak barang dagangan yang bebas dilihat siapapun baik oleh calon pembeli atau yang hanya lewat saja. Kaum remaja muslim juga banyak yang melakukan hal-hal “gila” dengan lawan jenisnya, banyak juga yang nyandu narkoba, terjadi perkelahian-perkelahian adu gengsi, dll..

Hal-hal tersebut sudah cukup menjadi bukti bahwa mayoritas muslim negara bukanlah orang “muslim”. Maskdunya adalah, mereka menjadi muslim hanya akuan saja. Sedangkan amaliah-amaliah mereka tidak mencerminkan bahwa mereka adalah “muslim” (dalam tanda kutip), karena “muslim” adalah orang yang menyerahkan diri kepada Allah lalu membuktikannya dengan beribadah sesuai aturan Islam, berakhlak sesuai tuntunan Islam, berpakaian sesuai arahan Islam, dan ber-muamalah sesuai dengan “Garis-garis Besar Haluan Islam” (GBHI).

Oleh karena itu, marilah kita menjadi muslim yang “muslim”. Jadikan Allah sebagai orientasi tertinggi dan Rasulullah sebagai suri tauladan sejati.

Yang Muda Yang Berkualitas


“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (Q.S. An-Nisa [4]: 9).


Roda kehidupan akan terus berputar, berganti masa dan berganti generasi. Anak-anak akan segera menjadi remaja kemudian dewasa, selanjutnya mengalami masa tua dan akhirnya akan dipanggil ke hadirat Allah swt.. Oleh karena itu, perlu disiapkan generasi-genarasi yang berkualitas untuk melanjutkan perjuangan menegakkan agama tercinta ini. Ada 10 karakter generasi yang berkualitas yang akan melanjutkan perjuangan, di antaranya:

1.  Memiliki kepribadian holistic (utuh) sebagai seorang muslim
Karakter pertama seorang muslim muda yang berkualitas tinggi (selanjutnya disebut MMKT) adalah berkepribadian yang utuh sebagai seorang yang berserah diri kepada Allah (muslim). Tidak setengah-setengah, tidak memilah hal yang yang sesuai dengan pikirannya, berimansecara kaffah, dan beramal sepenuh hati. Sikap dan tingkah lakunya selaras dengan koridor Islam. Dari mulutnya senantiasa keluar ucapan-ucapan yang baik nan penuh makna. Di dalam hatinya kuncup keyakinan akan keesaan dan kemahakuasa-an Allah. Muslim yang berkualitas tinggi selalu merujuk ayat-ayat Allah dan sunnah Rasulullah dalam setiap gerak-langkahnya.

2.  Berorientasi hanya kepada Allah (tauhid)
Allah adalah tujuan utama bagi seorang MMKT. Setiap amal yang dilakukannya tidak didasari oleh kepentingan-kepentingan di luar kepentingan kepada Allah (riya). Ia senantiasa khusyu dalam shalatnya, ikhlas dalam sedekahnya, jernih dalam berpikir, lebih mementingkan urusan akhirat ketimbang dunia, dan selalu bersikap ihsan (merasa diawasi Allah yang  berakibat berhati-hati dalam setiap aktivitasnya).

3.  Beruswah kepada Rasulullah saw.
Jika MMKT ditanya, siapakah orang yang paling dikagumi? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang paling dicintai? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang menjadi idola dalam hidup? Jawabannya adalah Rasulullah. Siapakah orang yang akan ditaati dan dituruti? Jawabannya adalah Rasulullah. MMKT menjadikan Rasulullah sebagai segalanya. Setiap amal yang ia lakukan selalu diselaraskan dengan amal yang Rasulullah ajarkan. Semangat dalam beraktivitas, mujahadah dalam beribadah, santun dalam berucap, luhur dalam bersikap, tidak berburuk sangka, memaafkan kesalah orang, menahan amarah, dll..

4.  Taat beribadah sesuai sunnah
MMKT adalah orang yang taat beribadah kepada Allah. Rajin shalat dengan ikhtiar khusyu, berzakat dan bersedekah, melaksanakan shaum di bulan Ramadlan dan shaum-shaum sunatnya, membaca al-Quran setiap hari, thalabul ‘ilmi tiada henti, mencari nafaqah dengan penuh motivasi, dll.. Dalam menjalankan ibadah MMKT selalu merujuk kepada Star Kit ibadah, yakni al-Quran dan as-Sunnah. Al-Quran dan as-Sunnah adalah buku panduan dalam melaksanakan ibadah. Jika tidak berdasarkan keduanya, maka ibadah tidak akan bernilai di sisi Allah swt..
5.  Menjaga diri dari maksiat
Maksiat berarti tidak mengindahkan perintah/larangan dari Allah dan Rasulullah. Akibatnya, murka Allah akan dirasakannya di dunia maupun di akhirat. MMKT dalam segala aktivitasnya akan selalu memelihara diri dari maksiat. MMKT tidak akan membiarkan dirinya terbiasa dengan maksiat-maksiat kecil apalagi maksiat besar. Maksiat kecil akan menjadi “gunung maksiat” jika dilakukan secara istimrar (berkelanjutan) dan maksiat besar yang istimrar akan menjadi “lautan maksiat”. Terbiasa dengan maksiat merupakan boking tempat di neraka nanti.

6.  Memiliki wawasan yang intensif (mendalam) dan ekstensif (luas)
Islam menuntut umatnya agar menjadi orang yang pintar nan cerdas. Rasulullah sendiri pun merupakan sosok pribadi yang paling cerdas di muka bumi ini. Kecerdasan yang dimiliki oleh MMKT mencakup tiga aspek, yaitu inteligensi, emosional, dan spiritual. Cerdas inteligensi (IQ) akan melahirkan sosok yang berwibawa karena ilmu yang dimilikinya. Cerdas emosional (EQ) akan menjadikan MMKT sebagai pribadi yang penu simpati, empati, afeksi, mandiri, dan penderma. Cerdas spiritual (SQ) akan menampakkan pribadi yang patuh dalam menjalankan aturan agama.

7.  Visioner
Waktu yang berlaku di dunia ini adalah masa lalu, hari ini, dan masa depan. MMKT akan menata waktunya dengan baik. Masa lalu akan dijadikan ibrah (pelajaran) untuk menjalani hari ini. Hari ini akan dijadikan pegangan untuk merencanakan masa depan. Sikap yang ditampakkan hari ini akan menentukan berhasil atau tidaknya seseorang di masa depan. Ketika si A malas-malasan untuk beraktivitas, kemungkiinan keberhasilan yang diinginkannya akan menjauh. Maka, MMKT akan menjadi seorang yang selalu menatap masa depan dengan cerah karena hari ini ia berjuang dengan “cerah”.

8.  Mujahid
Dalam setiap aktivitas yang dijalaninya, MMKT selalu memiliki sikap serius dan sungguh-sungguh serta optimal. Keseriusan menekuni sesuatu akan mengantarkan kepada harapan yang diukir. Serius dalam belajar, sungguh-sungguh serta optimal, akan menjadikan diri sebagai “pemenang” dalam kompetisi meraih prestasi. Ulet dan tekun dalam bekerja, akan membawa kita menjadi orang yang berhasil meretas kesuksesan. Pun dalam beribadah, MMKT senantiasa optimal menjalankannya, tidak setengah hati. Karena al-Quran menuntut kita agar sungguh-sungguh dalam menjalankan aturan agama. Jika iman, ya imanlah. Jika kafir, ya kafirlah.

9.  Menjaga stabilitas iman
Al-Imanu yazidu wa yanqushu, iman itu kadang bertambah dan kadang menurun. Demikianlah sabda Rasulullah saw.. MMKT akan terus berusaha agar keimanan yang ada di dalam hatinya tidak surut dan selalu pasang, sehingga di mana pun dan kapan pun ia akan selalu siap menyerahkan dirinya kepada Allah. Salah satu trik agar iman tetap terjaga adalah membiasakan diri dengan kebaikan sekecil apapun. Karena, ketika kita lengah dengan kebaikan, di saat itulah iman merosot. Selain itu, kita memohon kepada Allah agar iman kita tidak luntur dan tetap tumbuh-berkembang di kebun hati.

10. Mendakwahkan Islam dengan efektif
Ada tiga tahapan dalam hidup beragama, yaitu paham, amal dan dakwah. Untuk paham, MMKT akan terus berjuang mencari ilmu yang Allah miliki. Setelah ilmu didapat, MMKT akan merefleksikannya di dalam kehihdupan sehari-hari. Setelah memahami ajaran Islam, lalu mengaplikasikannya dengan sepenuh hati, MMKT akan berbagi ilmu dengan sesama. Hal ini adalah demi terciptanya masyarakat yang shaleh atau kita sebut dengan keshalehan kolektif. Akan merasa tenanglah jiwa ketika diri berusaha untuk shaleh, lingkungan pun berjuang untuk menjadi lingkungan yang berbakti kepada agama. q

Empat Permintaan


اَللهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُبِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُبِكَ مِنْ هَؤُلآءِ الأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesunggunya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak mampu khusyu, dari doa yang tidak didengar, dari nafsu yang tidak pernah puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari keempat hal tersebut.” (H.R. Tirmidzi).

Dalam doa tersebut, kita meminta agar dijauhkan dari empat hal kepada Allah swt.. Di antaranya adalah:

1.      Dijauhkan dari hati yang tidak mampu khusyu
Hati dalam bahasa Arab diistilahkan dengan qalb. Qalb itu sendiri artinya adalah bolak-balik alias tidak statis alias dinamis. Kadang merasa bahagia, kadang sedih. Suatu saat damai, saat yang lain amarah memuncah. Di satu aktivitas merasa optimis, di akticitas lain malah pesimis. Kadang khusyu beribadah kadang pula lali mengingat Allah. Itulah karakter hati. Nah, dalam doa ini kita meminta agar Allah mejaga hati kita agar tetap khusyu dalam segala hal terutama ibadah. Jika hati selalu khusyu, insya Allah diri kita akan merasa tenang dalam segala hal dan ketenangan adalah jalan untuk mendapatkan kebahgiaan.

2.      Dijauhkan dari doa yang tidak didengar (ghair mustajab)
Permintaan atau doa kita kepada Allah inginnya selalu diijabah. Tetapi ternyata ada hal-hal yang membuat doa kita terhalang tidak dikenankan. Di antaranya adalah konsumsi hidup yang haram-haram, maksiat yang tidak ditobati, berdoa dengan berlebihan, tidak yakin, dll.. Sengsara lah jika setiap doa yang dipanjatkan tidak diijabah oleh Allah. Oleh karena itu, untuk menopang agar doa kita diijabah, kita mesti mengetahui dan memahami cara-cara berdoa yang benar. Insya Allah jika ada usia akan diabahas kemudian tentang hal ini.

3.      Dilindungi dari nafsu yang tidak pernah puas
Karakter nafsu adalah tidak pernah puas dengan suatu capaian. Selalu saja ingin lebih, ingin lebih dan ingin lebih lagi. Untuk urusan dunian ini dalah sebuah kesalahan. Tetapi untuk urusan akhirat, ini sangat dituntut. Mau lagi ah bersedekah, mau lagi ah shalat tahajud, mau lagi membantu faqir-miskin, dan mau-mau kebaiakan lainnya. Itu merupakan gambaran semangatnya umat Rasulullah dalam ketaatn kepada agama karena agama Islam selamanya mengajarkan kebaikan bukan kejahatan bukan pula terorisme. Nah, point ini adalah permintaan untuk dijauhkan dari nafsu yang tidak pernah puas dalam urusan dunia yang fatamorgana.

4.      Dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat
Ilmu yang tidak bermanfaat akan menjadi bumerang bagi si pemiliknya. Bahkan ketika seseorang memiliki ilmu tapi ilmunya tidak bermanfaat, ia bisa saja dikatagorikan sebagai kaumk munafiq. Ciri bahwa ilmu dikatakan manfaat di antaranya adalah:
a.       Ilmu yang telah dimiliki, diamalkan oleh pemiliknya kecuali ilmu yang sifatnya sebagai wawasan saja. Misalnya sudah tau bahwa shalat itu wajib, tapi ternyata tidak ada gerakan hati sekalipun untuk rindu shalat apalagi melaksanakan apalagi mendirikan shalat.
b.      Ilmu itu diduplikasikan kepada yang belum memahami. Ini adalah ciri kedua ilmu yang bermanfaat.

Baiklah kawan, amalakan terus doa ini ya… Semoga Allah senantiasa memberi kita kesempatan untuk terus meraih kebaikan. Caiyooo…!!!

Management Perasaan

Feeling Power
Manusia memiliki dua dimensi yang saling berkait. Jika dua demensi itu terpisah maka berakhirlah perjalanan hidup manusia. Jasmani dan ruhani. Itulah dua dimensi yang ada pada diri manusia. Ketika jasad ada tapi ruhnya tidak ada, itu namanya bangkai. Faktor fisik dan faktor psikis sangat memengaruhi keberlangsungan hidup seseorang. Jika fisiknya sakit, aktivitas terganggu. Pun jika psikisnya sakit, kegiatan terhambat pula. Kesehatan keduanya sangat berpengaruh bagi aktivitas yang dijalani. Nah, Sahabat, yang akan dikaji pada ruang ini adalah perasaan sebagai salah satu bagian dari psikis.
Perasaan itu tempatnya di dalam hati. Perasaan yang muncul ke permukaan tergatung kondisi hati seseorang. Jika hatinya steril dari berbagai macam kotoran, maka perasaan mudah terkendali dan ketika perasaan terkendali, tombol sukses tinggal ditekan saja. Begitu kata Erbe Sentanu. Alasannya, perasaan merupakan benda quantum selain pikiran yang memiliki daya tarik terhadap realitas yang akan terjadi. Layaknya magnet yang menarik benda-benda sejenis besi, perasaan pun akan menarik realitas sesuai dengan apa yang saat ini dirasakan.
Jika merasa mampu, merasa bisa, merasa bahagia, merasa kaya, merasa cukup, dan merasa-merasa lain yang muatannya positif, maka realitas yang akan terjadi adalah sesuai dengan apa yang dirasakan. Begitu kata Erbe Sentanu. Kenapa? Karena, ketika kita merasakan tentang sesuatu seketika itu kita menebarkan gelombang elektromagnetik ke semesta alam raya. Dan, alam akan merespon dan menangkap umpan tersebut dengan menyodorkan realitas yang sesifat dengan apa yang dirasa. Ada hukum resiprokal (umpan balik) dalam interaksi antara perasaan dan alam. Melepas umpan dengan perasaan baik, maka alam akan menangkap dan melepas kebaikan ke dalam diri kita.
Sebenarnya hal ini sudah jauh lebih dulu dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadits qudsinya. Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan sangkaan hamba-Ku. Jika sangkaannya baik, maka baiklah realitas yang terjadi. Jika sangkaannya buruk, maka buruklah realitas yang terjadi (H.R. Thabraniy).

Manage Our Feeling
Perasaan terhubung dengan pikiran. Pikiran bisa mengendalikan dan merubah perasaan yang muncul. Keduanya saling melengkapi dalam perjalanan hidup seseorang. Contoh kongkrit, ketika kita sedang naik motor, tiba-tiba ada mobil menyerempet kita. Apa yang dirasa saat itu? Marah, jengkel, geram, menghasut, dan mengutuk. Itu adalah sederet perasaan yang sontak muncul. Tetapi perasaan tersebut bisa dikendalikan hanya dengan pikiran.
Sekarang coba jika pikiran kita dirubah, mungkin orang yang di dalam mobil tadi sedang menuju rumah sakit karena istrinya akan melahirkan, mungkin orang yang di dalam mobil sedang menuju rumah orang tuanya yang sedang sakit parah, atau mungkin orang itu sedang dirundung duka karena anaknya diberitakan wafat.
Apa yang akan dirasakan? Kita akan bahagia dan bersyukur bukan? Karena berpikir “serba untung”. Untung masih selamat, untung tidak terjadi kecelakaan, dan kita tidak mengalami apa yang orang itu alami. Kita pun tenang dan tidak menyimpan perasaan jengkel. Itulah yang disebut Arvan Pradiasyah dalam The 7 Laws of Happiness sebagai kekuatan memilih. Memilih pikiran dalam situasi dan kondisi bagaimanapun.
Nah, sekarang kita sudah mengambil sebuah pelajaran bahwa perasaan bisa dikendalikan dengan memilih pikiran. Berpikir positif atau negatif? Tentu semua itu ada konsekuensi masing-masing. Pikiran yang positif akan merambatkan muatan positif pada perasaan. Begitu juga sebaliknya.
Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa berpikir positif dalam segala hal sehingga perasaan pun akan positif? Tentunya kita mesti memahami bagaimana karakter pikiran dalam kehidupan dan apa efek yang timbul dari pikiran? Kesadaran inilah yang harus kuat menancap di dalam diri kita. Jika menyadari apa yang sedang dipikirkan saat ini buruk, maka pilihlah pikiran lain yang lebih baik agar ketenangan hadir memenuhi hati. Dalam bahasa hadits memilih pikiran yang baik ini dinamai dengan husnuzhan (prasangka baik).
Kualitas pikiran yang lahir akan sangat tergantung dengan konsep dan pemahaman yang dimiliki. Inventarisasi ilmu menjadi salah satu faktor penentu mutu pikiran. Oleh karena itu, perbanyaklah ilmu, ya… tentang konsep kehidupan, hakikat eksistensi manusia, relationship, tentang otak dan karakternya, hukum daya tarik pikiran (the law of mind attraction), tentang hati dan management-nya, dan lain-lain. Simpulannya, kualitas pikiran dipengaruhi oleh kualitas ilmu yang dimiliki.