Kamis, 29 Maret 2012

APRIL MOP: Sejarah Kelam Umat Islam

Apa itu April Mop?
April Mop disebut juga April Fool’s Day dalam bahasa Inggris, Poissond’ Avril (ikan April) dalam bahasa Perancis dan Dia de los Santos Inocentes (hari anak tak bersalah) dalam bahasa Spanyol.

Secara etimologi (bahasa) April berarti bulan April dan Mop berarti lelucon. Jadi, April Mop berarti lelucon di bulan April. Sedangkan istilah April Mop adalah hari dihalalkannya menipu dan berbohong untuk sekedar memberi lelucon kepada orang lain yang dirayakan setiap tanggal 1 April.


Di Inggris, Australia, dan Afrika Selatan, lelucon April Mop hanya dibolehkan sampai siang hari atau sebelum siang hari. Sedangkan di Kanada, Perancis, Irlandia, Italia, Rusia, Belanda dan Amerika Serikat, lelucon bisa dilakukan seharian penuh, yang pasti hanya ditanggal 1 April.

Perayaan April Mop ini belum sepopuler perayaan New Year (tahun baru) dan Valentine’s Day (hari kasih sayang). Namun, kita patut waspada terhadap siasat orang kafir. Mungkin saja perayaan April Mop ini sedikit demi sedikit “diajarkan” kepada umat Islam. Sekali lagi, kitat patut waspada. Kenapa? Karena, ada sesuatu yang “mengerikan” di balik perayaan ini. Apa itu? Mari kita pelajari....

Sejarah April Mop
Bagi umat Kristen, April Mop merupakan kemenangan besar atas umat Islam. Sebaliknya, bagi umat Islam, April Mop merupakan sejarah kelam.

Awal kisah, April Mop dimulai dari satu episode sejarah kaum Muslimin Vandalusia yang sekarang disebut Spanyol. Tepatnya tahun 1487 M, bertepatan dengan 892 H.

Spanyol berangsur tumbuh dan berkembang menjadi negara yang subur dan makmur ketika Thariq bin Ziyad, berhasil menaklukan Raja Roderick yang saat itu menguasai Spanyol dengan sangat zalim. Ia mengklasifikasi rakyat Spanyol menjadi lima kelas. Kelima kelas tersebut adalah (1) kaum bangsawan, keluarga kerajaan; (2) kaum pendeta, pegawai negara seperti pengawal, penjaga istana dan pegawai kantor pemerintah (baca: PNS); (3) petani, pedagang dan masyarakat berkecukupan; dan kelas para buruh, serdadu rendahan, pelayan dan budak.

Pengkelasan masyarakat tersebut ditambah kezaliman Roderick membuat rakyat Spanyol tidak nyaman dan sengsara. Banyak diantara rakyat Spanyol berimigrasi ke Afrika Utara yang saat itu berada di bawah Pemerintahan Islam dengan dipimpin Musa bin Nusair. Termasuk Gubernur Ceuta, Julian, dan puterinya, Glorinda, pun ikut menjadi imigran.

Di sana mereka mendapatkan ketenangan hidup, keadilan yang merata dan kesamaan hak. Padahal mereka bukanlah umat yang beragama Islam. Namun, pada saat itu Islam benar-benar menjadi rahmat bagi mereka.

Mendengar kezaliman yang diterima rakyat Spanyol, Musa bin Nusair berencana ingin memerdekakan rakyat Spanyol sekaligus menyampaikan Islam ke negeri Matador tersebut.

Setelah meminta izin Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Musa segera mengirim Abu Zar’ah dengan 400 pasukan pejalan kaki dan 100 orang pasukan berkuda menyeberangi selat antara Afrika Utara dan daratan Eropa.

Hari Kamis, 4 Ramadhan 91 H bertepatan dengan 2 April 710 Masehi, Abu Zar’ah meninggalkan Afrika Utara menggunakan 8 kapal yang 4 buah diantaranya merupakan hadiah dari Gubernur Julian.

Pada malam hari tanggal 25 Ramadhan 91 H atau 23 April 710 H, pasukan yang dipimpin Abu Zar’ah ini mendarat di sebuah pulau kecil dekat Kota Tarife yang menjadi sasaran serangan pertama.

Petang harinya, pasukan ini berhasil menaklukan beberapa kota di sepanjang pantai tanpa perlawanan berarti. Padahal jumlah pasukan Abu Zar’ah kalah banyak dibanding pasukan penduduk setempat.

Setelah penaklukan ini, Abu Zar’ah kembali ke Afrika Utara. Nah, keberhasilan ekspedisi Abu Zar’ah inilah yang kemudian mengompori semangat Musa bin Nusair, Gubernur Afrika Utara di bawah kekhilafahan al-Walid, untuk menaklukan seluruh Spanyol. Maka, ia memerintahkan Thariq bin Ziyad membawa pasukan untuk penaklukan yang kedua.

Senin, 3 Mei 711 M, Thariq bersama 70.000 pasukan menyeberang ke daratan Eropa menggunakan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan seluruh pasukan di salah satu bukit karang yang saat ini lebih dikenal dengan nama Gibraltar. Gibraltar diambil dari bahasa Arab yakni “Jabal Thariq” yang berarti Bukit Thariq. Lalu ia mengintruksikan pasukannya untuk membakar seluruh armada kapal yang mereka miliki.

Seluruh pasukan kaget bukan kepalang. Mereka berasumsi, jika kapal dibakar, bagaimana mereka bisa kembali setelah peperangan selesai?

 “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan, menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!” tegas Thariq sembari menghunuskan pedangnya.

Semangat berkobar dahsyat. Asa pun tetap terjaga. Demi titah Allah, mereka siap melanjutkan perjuangan. Mati syahid atau hidup mulia. Demikian jargon yang mampu memprovokasi mereka untuk bertahan dan terus merangsak menuju medan perang.

Thariq pun melanjutkan briefing-nya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah, satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan” demikian motivasi Thariq kepada seluruh pasukan.

Akhirnya, atas izin Allah swt., Thariq dan 70.000 pasukannya berhasil menaklukkan Spanyol yang saat itu menjadi “bulan-bulanan” Roderick. Merdekalah rakyat Spanyol dengan wasilah perjuangan Thariq, referesentasi Islam.

Selain di Spanyol, pasukan Thariq pun membebaskan Perancis. Kota Carcassone, Nimes, Bordeaux, Lyon, Poitou, Tours, dan sebagainya takluk di bawah “kaki” Thariq dan umat Islam.

Namun, meskipun sangat kuat, pasukan Islam tetap memberikan toleransi kepada suku Goth dan Navaro di daerah sebelah barat yang berupa pegunungan. Dan, kedatangan Islam ke negara Spanyol pun menjadi “matahari” yang menerangi jagat Spanyol.

Sikap baik yang ditunjukkan para penguasa Islam terhadap masyarkat spanyol. Sehingga, rakyat Spanyol menjadi simpati dan tertarik kepada umat Islam. Akhirnya  banyak rakyat Spanyol yang kemudian masuk Islam.

Umat Islam Spanyol sungguh-sungguh mengamalkan ajaran Islam. Bukan saja membaca al-Qur'an, seluruh aspek kehiduapan pun  mereka dasarkan dengan al-Qur'an. Keadaan tenteram ini berlangsung selama hampir enam abad.

Selama itu pula lah orang-orang kafir yang masih berada ada di sekitar Spanyol tanpa kenal lelah terus berusaha untuk men-sweaping Islam di bumi Spanyol. Namun, gagal adalah akhir perjuangan yang kerap mereka jumpai.

Untuk mengetahui letak kekuatan dan kehebatan umat Islam, mereka melakukan spionase. Mereka memata-matai gerak-gerik dan kehidupan umat Islam Spanyol.

Akhirnya mereka menemukan rumusan bagaimana cara menghancurkan umat Islam. Rumusan tersebut adalah melemahkan iman umat Isam. Kemudian rumusan tersebut ditindaklanjuti dengan merusak pemikiran dan budaya umat saat itu.

Secara diam-diam mereka mengirimkan alkohol dan rokok secara gratis ke wilayah Spanyol. Musik ditawarkan kepada anak-anak muda agar lebih suka bernyanyi dan menari daripada membaca al-Qur'an. Selain itu, mereka mengirim ulama-ulama palsu untuk nenanamkan ajaran-ajaran palsu sehingga umat Islam Spanyol terpecah belah. Alhasil, upaya ini berhasil. Umat Islam menjadi lemah imannya, lalai ibadahnya dan bobrok moralnya.

Spanyol pun jatuh dan dikuasai Salibis (pasukan perang salib). Penyerangan salibis benar-benar brutal. Bukan hanya pasukan Islam yang dibantai, penduduk sipil, wanita, anak-anak kecil, orang-orang tua pun ikut dibasmi. Maka, satu-persatu daerah di Spanyol jatuh ke tangan kaum salibis.

Granada merupakan daerah terakhir yang ditaklukkan. Orang-orang Moor, sebutan untuk Penduduk Islam Spanyol, menyelamatkan diri di dalam rumah. Salibis terus mengejar. Ketika jalan-jalan sudah sepi dan ribuan mayat berjejer tergenangi darah-darah segar, pasukan salib mengetahui bahwa muslim Granada banyak yang bersembunyi di dalam rumah.

Lantang dan tegas tentara salib meneriakkan pernyataan bahwa umat Islam Granada bisa keluar rumah dengan aman dan dibolehkan meninggalkan Spanyol membawa barang-barang keperluan mereka.

Umat Islam curiga dengan tawaran ini. Namun, beberapa dari mereka meng-crosscheck. Mereka melihat sendiri kapal-kapal penumpang yang sudah disiapkan di pelabuhan. Setelah benar-benar yakin, mereka segera bersiap untuk meninggalkan Granada dan berlayar keluar Spanyol.

Keesokan harinya, ribuan muslim Granada keluar rumah masing-masing membawa barang-barang kebutuhan. Mereka berjalan menuju pelabuhan. Orang-orang Islam yang tidak percaya, lebih memilih diam dan bersembunyi di dalam rumah.

Sampai di pelabuhan ribuan umat Islam Spanyol berkumpul bersiap menaiki kapal. Dengan cepat, tentara salib menggeledah rumah-rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Dari pelabuhan, kaum muslimin melihat api membara menjilat-jilat langit. Ternyata pasukan salib membakar rumah-rumah mereka bersama dengan orang-orang Islam yang masih bersembunyi di dalamnya.

Sedangkan ribuan umat Islam yang berada di pelabuhan pun hanya bisa terpana melihat kapal-kapal yang dijanjikan mengangkut mereka keluar dari Spanyol dibakar hangus oleh tentara salib. Kapal-kapal itu pun tenggelam.

Dikepung tentara salib, ribuan umat Islam tidak berdaya. Mereka tidak bersenjatakan apapun. Akhirnya atas intruksi pemimpin pasukan salib,  ribuan umat Islam dibantai secara brutal. Tangis dan takbir membahana.

Sejarah Muslim Spanyol berakhir di pelabuhan itu. Mereka habis dibantai dan dibunuh dengan kejam. Darah pun mengalir menggenangi tanah-tanah pelabuhan. Kebiruan laut “ternodai” merahnya darah-darah segar sehingga warnanya berubah menjadi merah kehitam-hitaman.

Sejarah kelam umat Islam tersebut bertepatan dengan 1 April. Inilah yang kemudian diperingati oleh umat Kristen sebagai April Mop (The April's Fool Day). Hari kemanangan salibis atas umat Islam. Hari dibumihangsukan-nya Umat Islam Spanyol. Oleh karena itu, April Mop dirayakan dengan dibolehkannya menipu dan berbohong kepada orang lain sebagai lelucon. Falsafahnya, pasukan salibis pun membohongi dan menipu umat Islam Spanyol saat itu demi kemenangan mereka.

Sikap Umat
Mewaspadai agar perayaan April Mop tidak menjangkiti umat merupakan sikap yang tepat. Selain itu, kaca sejarah latarbelakang April Mop mesti kita pelajari. Apa pasalnya?

Pertama, umat Islam saat ini memiliki penyakit yang bernama “latah”. Ini bahaya. Setiap ada perayaan, ikut. Setiap ada acara, ikut juga. Padahal perayaan dan acara tersebut bukanlah ajaran yang dibenarkan agama. Oleh karena itu, umat wajib memiliki pengetahuan luas (ekstensif) dan mendalam (intensif) sehingga tidak mudah tertipu dan terbodohi. Dengan begitu, umat Islam akan tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dan mana  yang tidak boleh.

Kedua, mempelajari sebab hancur leburnya umat Islam pada peristiwa yang kemudian dirayakan sebagai April Mop, kita mesti memperkokoh keimanan kepada Allah. Kemudian dibuktikan dengan loyalitas (ketaatan) yang tinggi. Dan, diperindah dengan integritas (akhlak) yang mulia. Inilah umat Islam yang sesungguhnya. Beraqidah kuat, beribadah shalih, dan berakhlak mahmudah.

Pada akhirnya, dengan ilmu yang ekstensif-intensif dan penananman trilogi agama (aqidah, ibadah, dan akhlaq) secara benar, insya Allah kita akan menjadi umat yang kuat, umat yang terbaik, umat yang dijanjikan kemenangan oleh Allah swt..

2 komentar:

  1. nice post dan sangat memprovokatif sekali isinya.
    allahuakbar!!!!!!!

    BalasHapus
  2. referensinya mana?

    BalasHapus

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...