Mutiara

"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin lemah. Bersemangatlah terhadap yang memberi manfaat kepadamu, berlindunglah kepada Allah dan jangalah merasa lemah" (H.R. Muslim)

Jumat, 27 Januari 2012

Sedikit Tentang Tasyabuh


Definisi Tasyabuh
Sebelumnya kita perhatikan dulu hadits berikut:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Siapa saja menyerupai suatu kaum, maka ia tergolong kaum tersebut”. (H.R. Abu Daud, Ahmad, Thabraniy).

Tasyabuh artinya menyerupai. Tasyabuh yang dimaksud hadits tersebut adalah menyerupai sikap dan perbuatam suatu kaum. Tasyabuh ada tiga macam, yaitu (1) tasyabuh yang dilarang, seperti merayakan tahun baru, ulang tahun diri, dll., (2) tasyabuh yang ibahah (boleh) seperti makan memakai sendok, mengenakan dasi, dll., dan (3) tasyabuh yang wajib, yaitu tasyabuh kepada Rasulullah, orang shalih, dalam hal beramal.

Jika dalam suatu urusan terdapat unsur keyakinan atau ibadah suatu agama, lalu umat Islam latah dan ikut-ikutan hal serupa dengan cara berbeda, maka itulah yang haram. Jika murni hanya prosesi duniawi saja, ya sah-sah saja umat Islam mengikutinya. Yang pasti jangan lalai dan berhura-hura. Ada yang lebih baik yang bisa digalakan. Bagi-bagi rezeki, syukur, pendalaman dan perluasan pengetahuan, dll..

Al-Munaawiy rahimahullah berkata:
وَقِيْلَ الْمَعْنَى: مَنْ تَشَبَّهَ بِالصَّالِحِيْنَ وَهُوَ مِنْ أَتْبَاعِهِمْ يُكْرَمُ كَمَا يُكْرَمُوْنَ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِالْفُسَاقِ يُهَانُ وَيُخْذَلُ كَهُمْ، وَمَنْ وَضَعَ عَلَيْهِ عَلاَمَةَ الشَّرْفِ أَكْرَمُ وَإِنْ لَمْ يَتَحَّقَّقْ شَرْفُهُ
“Dikatakan maknanya adalah : barangsiapa yang menyerupai orang-orang shaalih, maka ia termasuk orang yang mengikuti mereka. Ia pun dimuliakan sebagaimana orang-orang shaalih itu dimuliakan. Barangsiapa yang menyerupai orang-orang fasiq, maka akan dihinakan dan direndahkan sebagaimana mereka (dimuliakan dan direndahkan). Dan barangsiapa yang diletakkan padanya tanda-tanda kehormatan, ia lebih mulia meskipun kehormatannya itu tidak kelihatan.”

Merayakan Kemerdekaan Bangsa
Lalu, bagaimana merayakan proklamasi kemerdekaan bangsa? Jawabannya boleh. Kenapa? Ultah kemerdekaan tidak ada kaitan dengan keyakinan dan prosesi ibadah suatu agama. Ini masalah kenegaraan dan kebangsaan. Yang penting, selama tidak ada unsur kemaksiatan dan kesyirikan, sah umat Islam mengikutinya.

Mengucapkan Selamat atas Hari Raya Agama Lain
Kemudian, hukum mengucapan selamat selamat atas prestasi atau kebahagiaan yang dirasakan adalah boleh sekalipun kepada orang non muslim. Tapi, jika mengucapkan selamat atas hari raya suatu agama, atau ucapan selamat ulang tahun meskipun sesama muslim yang merayakannya, ini yang tidak boleh alias haram.

Tentang hal ini, Rasulullah saw. bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ
“Dari Abu Hurairah bahwa sanya Rasulullah saw bersabda “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam terlebih dulu terhadap orang Yahudi dan Nasrani, kalau kalian berjumpa dengan mereka di jalan,  maka persempitlah jalanya”.” (H.R. BUkhari-Muslim).

Sebagai muslim yang taat, janganlah kita mengucapkan selamat kepada non muslim atas hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan peribadatan mereka. Tasamuh (toleransi) itu bukan berarti harus mengucapkan selamat apalagi ikut-ikutan dengan jargo kerukunan antar umat beragama (baca: plurasime).

Kesimpulan
Tasyabuh yang dilarang adalah bertasyabuh kepada seseorang atau suatu agama yang keyakinan dan peribadatan yang syirik. Di luar itu, boleh-boleh saja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...