Mutiara

"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin lemah. Bersemangatlah terhadap yang memberi manfaat kepadamu, berlindunglah kepada Allah dan jangalah merasa lemah" (H.R. Muslim)

Senin, 05 Desember 2011

Indahnya Pertengkaran: 7 Kiat Menyikapi Masalah dalam Rumah Tangga


Tasikmalaya, 4/12/2011 - Sebenarnya aku tak tega melarang istri mengurangi makanan kesukaannya. Tapi, ini demi kesehatannya. Maklum setiap kali haid di hari pertama ia selalu mengalami PMS alias Pre-Menstrual Syndrome alias sumilangen. Setelah menemui Mr. Google, ternyata salah satu penyebabnya adalah faktor makanan seperti kafein, alkohol, daging merah, garam berlebihan, karbohidrat sederhana dan makanan pedas. Dari makanan-makanan yang disebut di muka, ada salah satu makanan kesukaan istriku. Makanan pedas. Yupz, istriku memang hobi makan makanan yang pedas.


Demi kesehatannya aku melarangnya untuk makan yang pedas-pedas keseringan. Laranganku hanya mengurangi karena aku pun sebenarnya suka pedas tapi tidak terlalu berlebih.

Pada awalnya istriku merasa tidak nyaman dengan “ketetapan” yang kubuat ini. Aku memahaminya karena memang perlu perjuangan agar keluar dari zona nyaman. Kuyakinkan agar ia mencoba dulu, barangkali ini bisa mengurangi atau bahkan sembuh dari PMS yang rutin dirasakan. Tetapi istriku menampakkan ketidaknyamanannya. Ia sedikit berubah tidak seperti biasanya. Sapa pun seperlunya saja tanpa sunggingan senyum yang biasanya hadir dan membuatku begitu bahagia.

Aku jadi merasa tidak enak. Kasihan istriku “tersiksa” dengan peraturanku. Agak menyesal aku melarangnya, tapi aku tidak tega melihat istriku mengerang kesakitan setiap kali haid. Makanya, mau dikatakan “diktator” oleh istriku pun aku sudi. Yang penting ia merasa sedikit nyaman ketika haid nanti. Syukur-syukur sembuh total. Semoga saja begitu.

Dalam kebekuan situasi dan kondisi, aku lebih memilih diam dan hijrah sementara. Aku tidur siang sejenak di kamar ibu. Maksudku adalah untuk menangkan dan mengevaluasi diri. Selepas bangun, ternyata ada sms yang masuk. “Abi kenapa begitu, benci/marah ya sama umi?”, istriku yang ngirim.

Loh... kok aku dianggap marah? Padahal aku lah yang mengira istriku marah besar gara-gara aku melarangnya makan pedas. Masya Allah... ternyata kami missed understanding dan salah menduga.

Setelah itu, kami pun segera menyadari bahwa setan tengah menunggangi hati kami. Kami beristigfar, saling menyapa, saling memeluk, saling minta maaf dan memaafkan, dan berdoa agar kami dikuatkan dalam setiap badai melanda. Kami menangis menyesali sikap yang membuat keadaan tidak harmonis. 

Hm... alhamdulillah ternyata Allah masih memberikan karunia-Nya kepada kami. Terimakasih ya Rabb atas semua ini. Bimbing kami ke jalan yang benar menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

***

Dari kejadian tersebut banyak pelajaran yang dapat kami ambil. Pertama, komunikasi itu penting. Tanpa komunikasi, salah paham atau su`uzhan cenderung terjadi. “Mari berbicara...” begitu kata iklan di televisi. Yupz, benar. Mari berbicara dan mengkomunikasikan apa yang mengganjal di hati.

Kedua, egois bukanlah pilihan sikap yang bijaksana. Sadarilah bahwa kita ini makhluk yang memiliki dua potensi, benar dan salah. Merasa salah lah dan jangan merasa benar. Merasa benar itu perbuatan setan. Sombong namanya. Sedang orang sombong tidak dicintai Allah alias dibenci.

Ketiga, perbanyak ilmu tentang apapun yang positif termasuk tentang kehidupan berumah tangga. Ilmu ini sejatinya akan membuat kita tersadarkan dari “tidur”. Banyak yang tersesat ketika menghadapi masalah karena memang ilmunya minimal. So, tingkatkan kualitas dan rekapitulasi ilmu tentang rumah tangga.

Keempat, meminta maaf itu tidak hina. Justru yang hina adalah yang tidak mau meminta maaf. Jangan merasa diri benar, lebih baik merasa bersalah lalu meminta maaf. Ini hebat. Sangat sangat hebat.

Kelima, jangan mendramatisir keadaan. Padahal masalahnya hanya sepele, eh... ternyata menjadi besar. Biasanya peristiwa seperti ini lebih banyak disebabkan oleh perasaan yang mendramatisir. Sudahlah, libatkan saja pikiran yang bersih dalam setiap masalah. Think fresh...!!! Jika pikirannya keruh, saya kira masalah akan semakin runyam.

Keenam, perbanyaklah membaca al-Quran di rumah dan rutinkan qiyamullail (shalat malam). Membaca al-Quran secara intensif dan berintensitas baik akan membuat rumah kita dipenuhi kebahagiaan dan keberlimpahan barakah. Rasulullah saw. bersabda:
أَكْثِرُوْا مِنْ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ فِى بُيُوْتِكُمْ فَإِنَّ الْبَيْتَ الَّذِى لَا يُقْرَأُ فِيْهِ الْقُرْآنُ يَقِلُّ خَيْرُهُ وَيَكْثُرُ شَرُّهُ وَيُضِيْقُ عَلَى أَهْلِهِ
Perbanyaklah membaca al-Quran di rumah-rumah kalian. Sesungguhnya rumah yang di dalamnya tidak pernah dibacakan al-Quran akan sedikit kebaikannya, banyak keburukannya dan menyempitkan (dada) para penghuninya” (H.R. Daruquthni dan ad-Dailami).

Hadits tersebut dla’if (lemah), tetapi beresesuaian dengan ayat al-Quran dan hadits Rasulullah yang sahih. Jadi, kami kira ini hadits ini bisa menjadi referensi kebarakahan dengan membaca al-Quran di rumah.

Dalam hadits lain, Rasulullah pun bersabda dalam sebuah hadits:
وَلَا تَتَّخِذُوا بُيُوتكُمْ قُبُورًا
“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan” (H.R. Abu Daud).

Selain memperbanyak tilawah al-Quran, bangun malam kemudian bergegas menjalankan qiyamullail (shalat malam) pun mesti dibiasakan oleh suami atau istri. Ini demi kebahagiaan dan kenyamana hidup. Bahkan di sepertig amalam terakhir ini Allah menjajikan akan mengijabah setiap doa hamba-Nya, memberi apa yang diminta hamba-Nya dan mengampuni setiap hamba-Nya yang meminta ampunan-Nya.

Ingat rumusnya, bisa karena terbiasa, terbiasa karena dibiasakan, dan dibisakan awalnya adalah karena dipaksakan. So, paksakan, biasakan, maka akan terbiasa dan bisa menjalankan segala hal yang baik-baik termasuk shalat tahajud. Mari kita sama-sama berupaya...

Ketujuh, sesekali jadilah pasangan yang berfungsi paradoks tetapi sewajarnya saja. Bagi suami, cobalah mencuci pakaian istri, memasak nasi dan lauk pauk, mencuci piring., mengepel lantai. Bagi istri, cobalah memandikan kendaraan suami, menyemir sepatu, dan hal-hal lain yang biasa dilakukan suami. Sekali lagi, ini hanya sewajarnya dan tidak permanent. Tujuannya tiada lain, agar kita bisa memosisikan diri alias berempati.pada akhirnya ini akan menyadarkan kita betapa mulianya perjuangan suami/istri kita.

Demikian catatan ini kami buat agar digunakan sebagai referensi dalam menjalankan rumah tangga dengan baik dan benar serta barakah.

Tasikmalaya, 5 Desember 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mari meraih kebaikan dengan berbagi. Tinggalkan komentarmu kawan...